Pelantikan DPC ISKA Kota Jambi disaksikan-turut hadir ormas Katolik: PMKRI, WKRI dan Pemuda Katolik Kota Jambi (Minggu, 6 Maret 2022)
KEPENGURUSAN DPC ISKA (Ikatan Sarjana Katolik) Kota Jambi telah dibentuk. Pelantikan secara online (Minggu, 6 Maret 2022).
Ketua dan Sekjen ISKA Pusat, Bapak Hargo dan Bapak Joko melantik para pengurus ISKA Kota Jambi via zoom.
Kegiatan rekoleksi dan pelantikan pengurus DPC ISKA Kota Jambi yang dikemas dalam tema, “Panggilan dan Perutusan Ormas Katolik Jambi yang Holistik”.
Pantas diapresiasi dengan terbentuknya kepengurusan DPC ISKA Kota Jambi. Pengembangan ormas ISKA di Kota Jambi sangat membantu dan saling bekerja sama dengan DPC ISKA Kota Palembang yang telah dibentuk sedikit lebih awal.
Terus bersinergi
DPC Kota Jambi dan DPC Kota Palembang (serta tetap menanti terbentuknya DPC Kota Bengkulu) sangat membantu untuk membangun kerja sama dan terus bersinergi di wilayah teritorial Keuskupan Agung Palembang (KAPal).
Ketua DPC ISKA Kota Palembang, Dr Heri Setiawan menginfokan bahwa DPC Kota Jambi menjadi peserta munas (Musyawarah Nasional) yang akan di selenggarakan di Nusa Tenggara Timur pada 27-29 Mei 2022.
Dengan apa yang kita miliki, “apa yang bisa kita sinergikan untuk bangsa dan negara serta gereja dengan kearifan lokal”, tanya Bapak Heri bagi pengurus dan anggota DPC ISKA Kota Palembang. *** (Ignas)
Mungkinkah Katedral St. Sophia di ibukota Ukraina, Kyiv, menjadi target militer Rusia? Desas-desus tentang kemungkinan serangan terhadap katedral yang berdiri pada abad ke-11, yang telah lama diubah menjadi museum, telah memperdalam keputusasaan penduduk Ukraina yang sudah sangat menderita.
Namun serangan yang diantisipasi telah memperjelas apa yang dikatakan Uskup Agung Sviatoslav Shevchuk, pemimpin Gereja Katolik Yunani Ukraina, kepada wartawan pada 8 Februari 2022, dua minggu sebelum invasi Rusia: bahwa “di Ukraina, tidak ada perang agama.”
Katedral St. Sophia jarang digunakan untuk acara-acara liturgia. Tetapi katedral tersebut dianggap sebagai rumah oleh orang Katolik Ortodoks dan Katolik Roma di Ukraina. Katedral tersebut dibangun pada masa Yaroslav I (980-1054) menjadi penguasa otoritas Kyiv.
Katedral St. Sophia memiliki makna simbolis bagi penduduk Kyiv, yang percaya bahwa kota itu akan tetap berdiri sepanjang katedral itu juga berdiri.
Bangunan itu memiliki sejarah yang bergejolak. Katedral tersebut menjadi milik Gereja Katolik Yunani Ukraina setelah Persatuan Brest pada tahun 1595, kemudian diklaim oleh Metropolitan Ortodoks Petro Mohyla pada tahun 1633. Asal tahu saja, Persatuan Brest merupakan perjanjian pada tahun 1596 yang menyatukan jutaan orang Katolik Ortodoks Ukraina dan Belarusia dengan Gereja Katolik Roma yang hidup di bawah kekuasaan Polandia di Lituania.
Katedral St. Sophia di Kyiv Ibukota Ukraina | Ivan Sedlovskyi via Wikimedia
Setelah revolusi tahun 1917, Uni Soviet berniat menghancurkan katedral, tetapi niat itu digagalkan oleh para ilmuwan dan sejarahwan. Pada tahun 1934, pemerintah Uni Soviet menyitanya dan mengubahnya mennjadi museum.
Setelah kemerdekaan Ukraina pada tahun 1991, Katedral St. Sophia diklaim baik oleh Gereja Ortodoks di Ukraina dan Gereja Katolik Yunani Ukraina. Di sanalah Metropolitan Epiphanius, pemimpin Gereja Ortodoks Ukraina yang baru dilantik, merayakan awal pelayanannya pada 3 Februari 2019.
Ukraina telah lama menjadi medan konflik ekumenis. Dari seluruh populasi Ukraina, pemeluk Gereja Ortodoks mencapai 44 juta orang. Umat Katolik menjadi minoritas di Ukraina.
Gereja Ortodoks terdiri dari berbagai bangsa yang terkait dengan wilayah tersebut, semuanya setara dalam martabat. Tetapi Patriarkat Konstantinopel menjalankan semacam “keutamaan”, yang bersumber dari peran utamanya dalam suksesi Gereja-Gereja Ortodoks, untuk menindaklanjuti permintaan dari pemerintah Ukraina akan hadirnya sebuah Gereja nasional yang diakui. Proposal itu dibuat oleh Petro Poroshenko, presiden Ukraina (2014-2019).
Pada 2019, Bartholomew I, Patriark Ekumenis Konstantinopel, memberikan otosefali (otoritas otonom) kepada Gereja Ortodoks Ukraina (Orthodox Church of Ukraine, OCU), mencabut dekrit patriarkat yang sama yang menetapkan wilayah Ukraina masuk ke wilayah Patriarkat Moskow.
Bagi Patriarkat Moskow, keputusan tersebut sama saja dengan tindakan memicu konflik, yang menyebabkan putusnya hubungan dengan Konstantinopel. Patriarkat juga menarik diri dari meja ekumenis yang diketuai bersama oleh Konstantinopel, dengan mengatakan bahwa keputusan itu, dalam praktiknya, merupakan invasi wilayah kanonik.
Tetapi selain Patriarkat Moskow, ada dua realitas Ortodoks lainnya di Ukraina: Gereja Ortodoks Rusia-Patriarkat Kyiv, yang kemudian bergabung dengan OCU, dan Gereja Ortodoks Ukraina dari Patriarkat Moskow , yang, terlepas dari namanya, adalah independen dari Patriarkat Moskow, meskipun terasa sepenuhnya seperti Gereja Rusia.
Oleh karena itu, Gereja Ortodoks di Ukraina sangat kompleks dan ketegangan terus berlangsung.
Gereja Katolik Yunani Ukraina, di sisi lain, harus dibangun kembali setelah praktis diberantas dengan apa yang disebut sinode semu Lviv pada tahun 1946. Sinode tersebut diatur oleh otoritas sekuler. Terlebih lagi hampir setahun sebelum penyelenggaran pertemuan tersebut, pada malam 11-12 April 1945, Uskup Metropolitan Josyf Slipy, ditangkap.
Sementara umat Katolik Yunani Ukraina yang diaspora tetap mempertahankan identitasnya, mendirikan Gereja yang universal, dan berhasil bangkit setelah runtuhnya komunisme.
Gereja Katolik Yunani Ukraina adalah Gereja sui iuris terbesar yang terjalin dengan Gereja Katolik Roma. Gereja ini memiliki uskup agung, yang setara dengan “paus” bagi umatnya, dan ini adalah Gereja yang b global, dengan kehadirannya dan hierarki di empat benua.
Paus Fransiskus sering berbicara tentang “ekumenisme darah.” Istilah tersebut disampaikan oleh Paus Fransiskus di Bulgaria pada 5 Mei 2019, di mana Paus Fransiskus mengatakan bahwa umat Katolik dan Ortodoks dipersatukan oleh darah para martir dan orang-orang Kristen yang terus menderita demi iman bahkan sampai hari ini. Dalam kasus Ukraina, ada “ekumenisme rumah sakit lapangan”, yang diekspresikan dalam Dewan Gereja dan Organisasi Keagamaan Ukraina (Ukrainian Council of Churches and Religious Organizations, UCCRO).
Lahir pada tahun 1996, dewan tersebut mewakili 95% komunitas agama di Ukraina dan memainkan peran penting setelah “Revolusi Martabat” Ukraina pada tahun 2014 tetap dekat dengan orang-orang dan senantiasa membangun saluran dialog antar agama ketika denominasi Kristen terpecah.
Untuk alasan ini, Uskup Shevchuk sangat menekankan: “Tidak ada perang antar agama di Ukraina. Bahkan Gereja Ortodoks tidak setuju terhadap anggapan tentang perang agama. Sebaliknya, agama-agama di Ukraina berkolaborasi dan melakukan segala yang mungkin untuk menjamin perdamaian agama, serta membantu penduduk.”
Uskup Agung Shevchuk menjelaskan tentang komitmennya terhadap empat pilar yaitu “doa, solidaritas, pewartaan harapan, dan bekerja untuk konsolidasi rakyat.”
Kesatuan Gereja dalam membela bangsa terlihat dari sebuah peristiwa pada 24 Februari 2022, hari pertama invasi. Metropolitan Onufriy, kepala Gereja Ortodoks Ukraina dari Patriarkat Moskow merilis pernyataan mengejutkan, di mana dia mengatakan: “Mempertahankan kedaulatan dan integritas Ukraina, kami memohon kepada Presiden Rusia dan meminta Anda untuk segera menghentikan perang saudara.”
“Orang-orang Ukraina dan Rusia keluar dari kolam pembaptisan Dnieper, dan perang antara orang-orang ini adalah pengulangan dosa Kain, yang membunuh saudaranya sendiri karena iri. Perang seperti itu tidak memiliki pembenaran bagi Tuhan atau manusia.”
Pada 28 Februari 2022, sinode dari Gereja yang sama menyampaikan seruan berikut kepada Patriark Moskow Kirill: “Yang Mulia! Kami meminta Anda untuk mengintensifkan doa Anda untuk orang-orang Ukraina yang telah lama menderita, untuk mengucapkan kata-kata sebagai pimpinan hirarki tentang penghentian pertumpahan darah di tanah Ukraina, dan untuk menyerukan kepada pimpinan Federasi Rusia untuk segera menghentikan permusuhan yang sudah mengancam untuk berubah menjadi Perang Dunia.”
Pada tanggal 2 Maret 2022, klerus dari keuskupan Ivano-Frankivsk mengumumkan bahwa mereka akan berhenti memperingati Patriark Kirill selama perayaan Liturgi. Tindakan tersebut menandakan bahwa otoritas Patriark Kirill tidak lagi diakui.
Patriark Moskow harus membayar mahal dengan sikapnya karena tidak secara jelas mengutuk invasi Rusia.
Dalam sebuah pernyataan pada 24 Februari 2022, hari pertama serangan itu, Patriark Kirill menekankan bahwa dia adalah “Patriark seluruh Rusia dan primat Gereja yang kawanannya berlokasi di Rusia, Ukraina, dan negara-negara lain” dan menyerukan “pada semua pihak dalam konflik untuk melakukan segala kemungkinan untuk menghindari korban sipil.”
Dia mengulangi bahwa “orang-orang Rusia dan Ukraina memiliki sejarah yang sama selama berabad-abad yang berasal dari Pembaptisan Rus oleh St. Vladimir.”
“Saya percaya bahwa kedekatan yang diberikan Tuhan ini akan membantu mengatasi perpecahan dan ketidaksepakatan yang muncul yang menyebabkan konflik saat ini,” katanya.
Pernyataan itu tidak termasuk kecaman atas agresi Rusia tetapi tampaknya menegaskan kembali keyakinan bahwa Ukraina adalah wilayah kanonik Rusia.
Posisi Patriak Kirill menyebabkan posisinya terisolir dalam lingkup Gereja Ortodoks. Gereja Ortodoks Serbia, yang secara tradisional adalah sahabat Moskow, mengatakan pada 28 Februari 2022 bahwa mereka mengirim bantuan ke Gereja yang dipimpin oleh Metropolitan Onufriy. Sikap yang bermakna ini memang tidak memutus jembatan persahabatan tradisional, tetapi tetap mencolok.
Sementara itu Patriark Daniel dari Rumania secara tegas mendefinisikan konflik di Ukraina sebagai “perang yang diluncurkan oleh Rusia melawan negara yang berdaulat dan merdeka.”
Patriark Ilia dari Georgia menulis pada 24 Februari 2022: “Berdasarkan pengalaman pahit Georgia, kami tahu betapa pentingnya integritas teritorial negara itu. Itulah sebabnya kami menyaksikan situasi tegang di Ukraina dengan kesedihan. Kami mencatat bahwa peristiwa kemarin dan hari ini sudah dalam bahaya pertumpahan darah yang serius, meskipun kemungkinan untuk mengatur situasi masih ada. Ini juga merupakan kesempatan untuk menjaga perdamaian universal.”
Para uskup Gereja Ortodoks Finlandia mengecam keras invasi Rusia. Mereka berkata: “Tidak ada pembenaran untuk perang. Rakyat Ukraina harus didukung dengan segala cara: baik secara finansial dan secara spiritual melalui doa.” Mereka juga mengimbau “kepada para uskup dan imam Patriarkat Moskow untuk mempromosikan perdamaian.”
Uskup Agung Ieronymos dari Athena mengungkapkan keterkejutannya, dengan mengatakan bahwa “pikiran dan doanya ditujukan kepada saudara-saudara kita di Ukraina, terutama kepada anak-anak dan orang tua yang mengalami kengerian perang, dan tentu saja kepada ribuan saudara senegara kita di negara ini.”
Namun, reaksi yang paling mengejutkan datang dari Rusia: 233 imam dan diakon Gereja Ortodoks Rusia mengeluarkan pernyataan yang mengutuk “perang saudara” dan meminta gencatan senjata segera.
Mereka mengajukan permohonan setelah Minggu Penghakiman Terakhir dan dalam seminggu sebelum Minggu Pengampunan, dua hari Minggu sebelum Prapaskah dalam kalender liturgi Gereja Timur.
Mereka mengatakan mereka berharap bahwa “semua orang, baik Rusia dan Ukraina, akan kembali tanpa terluka ke keluarga mereka.” Mengingat “Minggu Pengampunan”, mereka menekankan bahwa “pintu surga akan terbuka bagi semua orang, juga bagi mereka yang telah melakukan dosa berat,” tetapi “tidak ada alternatif selain rekonsiliasi timbal balik.”
Di antara yang pertama mengutuk serangan itu adalah Bartholomew I dari Konstantinopel. Dengan memberikan otosefali Patriark Ekumenis telah mengakui Ukraina sebagai negara dengan haknya sendiri, tindakan yang dihargai oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Pada Agustus 2021, Patriark Bartholomew I menjadi tamu istimewa pada seremoni 30 tahun kemerdekaan Ukraina.
Tidak mengherankan, Zelensky menelepon Patriark Bartholomew untuk berterima kasih atas kata-katanya. “Warga Ukraina merasakan dukungan spiritual dan kekuatan doa Anda,” cuit presiden di akun Twitter-nya, “Kami berharap perdamaian secepat mungkin.”
Oleh karena itu, tampaknya terjadi pergeseran di lingkup Gereja Ortodoks menuju Kyiv dan menjauh dari Moskow. Ketegangan yang terjadi sebelumnya dicairkan oleh keinginan bersama dari suatu bangsa dan oleh gagasan untuk berbagi nasib yang sama. Bagaimanapun juga, Gereja Ortodoks berada di balik negara Tirai Besi: mereka yang telah menderita penganiayaan agama dan tidak ingin kembali ke pengalaman itu. Mereka telah berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan karena itu tidak dapat menerima bahwa hal itu dipertanyakan.
Gereja Katolik Yunani Ukraina tetap aktif di balik layar. Mereka merayakan dengan Ritus Bizantium dan mengakui Patriarkat Konstantinopel sebagai Gereja Induknya, tetapi bersatu dengan Roma dan setia kepada paus. Peristiwa “Revolusi Martabat” telah menjadi jembatan antara pengakuan Kristen. Tapi itu juga merupakan penjaga identitas Ukraina, yang tetap hidup bahkan dalam situasi diaspora.
Perlu kita ketahui bahwa Presiden Zelensky, pada 8 Februari 2020, saat mengunjungi Paus Fransiskus, dia mengajukan dua hal: permintaan kepada Takhta Suci untuk menengahi perdamaian di Ukraina dan pertanyaan tentang beatifikasi Metropolitan Andrey Sheptytsky (1865-1944), orang yang pertama mengembangkan gagasan Gereja Katolik Yunani Ukraina global, yang lepas pada batas negara.
Sebelumnya, pada tahun 2015, Paus Fransiskus mengakui “kebajikan heroik” uskup metropolitan tersebut, sebuah langkah signifikan menuju beatifikasi. Gereja Katolik Yunani mengakui kesucian mendiang uskup tersebut. Presiden Zelensky sendiri menggarisbawahi pentingnya beatifikasi dalam suatu percakapan via telepon dengan Paus Fransiskus pada 30 Juni 2021. Ia juga menegaskan kembali undangan kepada Paus Fransisku untuk mengunjungi Ukraina.
Komunitas agama, pada akhirnya, sangat penting di Ukraina. Untuk alasan ini, gagasan bahwa Katedral St. Sophia dapat menjadi sasaran serangan militer telah menyatukan kembali jiwa Kristen di negara itu.
Sementara itu, Gereja Ortodoks tampaknya semakin mengisolasi Patriarkat Moskow. Ada risiko bahwa perpecahan Gereja Ortodoks tidak lagi hanya menyangkut pemberian otosefali kepada Gereja lokal. Sebaliknya, perpecahan baru bisa muncul karena masalah politik. Dan siapa pun yang menempatkan pilihan politik di depan mereka akan menghadapi risiko isolasi itu.
Herman Endrayanto (Sumber: Andrea Gagliarducci, Catholic News Agency)
Paus Fransiskus menyampaikan pidato Angelus-nya di Vatikan, 6 Maret 2022. | Vatikan Media.
Paus Fransiskus mengutuk invasi Rusia ke Ukraina dan menyatakan solidaritasnya dengan negara itu pada hari Minggu (6 Maret 2022).
“Sungai darah dan air mata mengalir di Ukraina,” dia memulai pidato Angelus-nya. “Ini bukan hanya operasi militer, tetapi perang, yang menabur kematian, kehancuran, dan kesengsaraan.”
Paus berusia 85 tahun berbicara kepada orang banyak yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus di Roma setelah Angelus, doa Maria, pada 6 Maret 2022. Di bawah sinar matahari yang cerah, umat Katolik berkumpul untuk berdoa bersama Paus, termasuk banyak orang yang berasal dari Ukraina, yang mengangkat bendera biru dan kuning negara mereka untuk dilihat semua orang yang hadir.
Pidatonya menggemakan kata-kata Uskup Agung Sviatoslav Shevchuk, pemimpin Gereja Katolik Yunani Ukraina. Dua hari setelah Rusia memulai invasi skala penuh ke Ukraina, pada 26 Februari 2022, Uskup Agung Shevchuk mengutip pendahulunya, mendiang Kardinal Josyf Slipyj, yang menggambarkan “gunung mayat dan sungai darah” setelah Rusia menyerang Ukraina.
Paus Fransiskus menyatakan keinginannya untuk membantu rakyat Ukraina mencapai perdamaian.
“Takhta Suci siap untuk melakukan segalanya, untuk menempatkan dirinya dalam pelayanan perdamaian ini,” katanya, mengumumkan bahwa baru-baru ini dua kardinal melakukan lawatan ke Ukraina “untuk melayani rakyat, untuk membantu.”
Paus menyebut kedua kardinal itu sebagai almoner kepausan yaitu Kardinal Konrad Krajewski dan Kardinal Michael Czerny, prefek interim untuk Promosi Pembangunan Manusia Seutuhnya.
“Kehadiran dua kardinal di sana tidak hanya sebagai tanda kehadiran Paus, tetapi juga semua orang Katolik yang ingin lebih dekat dan berkata: “Perang itu gila! Tolong hentikan! Lihat kekejaman ini!’” seru Paus Fransiskus.
Paus mengulangi seruannya pada minggu sebelumnya bagi suatu koridor kemanusiaan bantuan kepada Ukraina.
“Jumlah korban semakin bertambah, begitu pula orang-orang yang mengungsi, terutama kaum perempuan dan anak-anak. Kebutuhan akan bantuan kemanusiaan di negara yang dirundung masalah itu tumbuh secara dramatis dari jam ke jam,” katanya.
“Saya mengimbau dengan sepenuh hati agar koridor kemanusiaan benar-benar diamankan, dan bantuan dijamin dan akses difasilitasi ke daerah-daerah yang terkepung,” tambahnya, “untuk menawarkan bantuan penting kepada saudara-saudari kita yang tertindas oleh bom dan ketakutan. ”
Paus berterima kasih kepada dua kelompok khusus yang membantu rakyat Ukraina yaitu mereka yang menyambut pengungsi dan jurnalis lokal.
“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para jurnalis yang mempertaruhkan nyawa untuk memberikan informasi,” ungkapnya. “Terima kasih, saudara-saudara, untuk layanan ini! Sebuah layanan yang memungkinkan kita untuk dekat dengan tragedi kemanusiaan itu dan memungkinkan kita untuk menilai kekejaman perang.”
Meskipun dia tidak menyebutkan wartawan atau negara tertentu yang membantu pengungsi, beberapa waktu yang lalu, Paus Fransiskus berterima kasih kepada orang-orang Polandia atas kemurahan hati mereka dalam menyambut mereka yang melarikan diri dari Ukraina.
Sejak awal invasi, Paus Fransiskus telah menyerukan perdamaian. Baru-baru ini Paus mendesak umat Katolik di seluruh dunia untuk berdoa dan berpuasa bagi Ukraina pada perayaan Rabu Abu, yang menandai awal Prapaskah, 2 Maret 2022.
Pada 25 Februari, Paus mengunjungi Kedutaan Besar Rusia untuk Takhta Suci, yang terletak dekat Vatikan. Penulis Katolik George Weigel mengatakan kepada Catholic World Report bahwa Paus berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin selama kunjungan tersebut. Pada hari yang sama, dia menelepon Uskup Agung Shevchuk untuk menyatakan dukungannya bagi perdamaian.
Hari berikutnya, Paus Fransiskus mengumumkan keprihatinannya atas situasi di Ukraina melalui pembicaraan via telepon dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Setelah berdoa Angelus, Paus menghimbau kembali untuk menghentikan peperangan.
Paus menyatakan, “Di atas segalanya, saya mohon agar serangan bersenjata dihentikan dan mengutamakan negosiasi serta akal sehat. Dan sekali lagi hukum internasional harus dihormati!”.
Paus mengajak umat Katolik yang berkumpul berdoa bersamanya mendaraskan doa Salam Maria.
“Mari kita berdoa bersama, sebagai saudara dan saudari, kepada Bunda Maria, Ratu Ukraina,” katanya.
Herman Endrayanto (Sumber: Katie Yoder, Catholic News Agency)
Pemerintah Indonesia telah menetapkan
wabah corona virus COVID-19 sebagai bencana nasional, jumlah
kasus positif setiap harinya semakin bertambah.
Data pertanggal 03 April 2020 dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan
Covid-19 di Indonesia, terkonfirmasi
sebanyak 1.986 kasus, dalam perawatan 1.671 kasus, sembuh 134 orang dan
meninggal sebanyak 181 orang. Corona virus COVID-19 merupakan virus RNA, yang
mempunyai materi genetik RNA untai tunggal dengan polaritas positif dan dapat
menyebabkan infeksi pada saluran pernafasan yang dikenal dengan Severe Acute
Respiratory Syndrome (SARS). Untuk mencegah semakin meluasnya pandemi, satu
bukti respon cepat pemerintah Indonesia dalam mengatasi pandemi COVID-19
adalah membangun jejaring dengan banyak
laboratorium, untuk memperkuat dan
mempercepat proses pemeriksaan, sehingga dapat segera diketahui kasus positif
untuk selanjutnya diisolasi agar tidak
menjadi sumber penularan di masyarakat.
Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel
penderita COVID-19 untuk mengetahui respon antibodi terhadap virus dan
keberadaan virus. Deteksi virus menggunakan PCR (Polymerase Chain Reaction) dengan
bahan pemeriksaan swab tenggorokan dan
deteksi antibodi IgM/IgG yaitu respon pertahanan tubuh terhadap virus,
dengan bahan pemeriksaan darah (whole blood, serum atau plasma), menggunakan alat RDT (Rapid Diagnostic Test).
Beberapa jenis reagen rapid direkomendasikan
oleh WHO untuk deteksi antibodi COVID-19. RDT adalah pemeriksaan immunologi yang umum dilakukan
untuk mendeteksi keberadaan antigen atau antibodi. Keuntungan metode ini dapat memberikan
hasil dalam waktu yag sangat singkat, uji dapat diselesaikan dalam waktu 30
menit. Jenis pemeriksaan ini juga dikenal sebagai prosedur immunoassay bersifat
kromatografi, hasil pemeriksaan dibaca dengan
terlihat perubahan warna pada
permukaan area uji dan dilaporkan secara kualitatif yaitu hasil pemeriksaan
positif atau negatif.
Deteksi virus dengan PCR merupakan reaksi berantai polimerase,
suatu teknik atau metode perbanyakan (Replikasi) DNA secara enzymatik. PCR
digunakan secara luas untuk berbagai kebutuhan, seperti situasi pandemi COVIC-19
saat ini. Penyakit berbahaya memerlukan diagnosa yang cepat dan akurat. PCR
merupakan teknik yang sering digunakan, teknologi saat ini memungkinkan
diagnosa dalam hitungan jam dengan hasil akurat, dikatakan akurat karena PCR
mengamplikasi daerah tertentu DNA yang merupakan ciri khas dari virus tersebut.
Kedua uji yang digunakan untuk
menegakkan diagnosa infeksi virus COVID-19 yaitu metode rapid dan PCR, tidak
dapat dipisahkan, karena hasil kedua tes bersifat tidak tetap. Swab tenggorokan
pasien yang terinfeksi virus COVID-19 yang diambil pada hari pertama, dapat terdeteksi
positif terdapat virus COVID-19, namun pada sampel darah yang diperiksan
menggunakan rapid test, hasil dapat
negatif tidak terdeteksi adanya antibodi. Hal ini dapat terjadi karena pada
awal infeksi antibodi yang merupakan respon pertahanan tubuh terhadap virus
belum terbentuk. Apabila pada hari ke 14 dilakukan pemeriksaan kembali dengan
dua metode tersebut, antibodi dalam darah dapat terdeteksi positif dengan
pemeriksaan rapid dan virus juga dapat terdeteksi positif dengan pemeriksaan PCR. Hasil pemeriksaan ini
menunjukkan bahwa pada penderita antibodi sudah terbentuk dan virus juga masih
ada. Begitu juga ketika virus pada penderita sudah tidak terdeteksi lagi, antibodi masih dapat terdeteksi.
Pemeriksaan laboratorium terhadap COVID-19 sangat penting, untuk memastikan apakah seseorang positif terinveksi virus COVID-19 atau tidak dan untuk menentukan pasien yang positif terinfeksi apakah sudah sembuh atau belum. Hal ini tentu tidak bisa lepas dari peran rekan-rekan ATLM (Ahli Teknologi Laboratorium Medis) yang lebih dikenal analis kesehatan. Barangkali di masyarakat profesi Ahli Teknologi Laboratorium Medis, kurang banyak dikenal seperti halnya profesi dokter dan perawat, namun dalam melawan Covid-19, mereka juga berada di garis depan bersama tim medis lainnya, ketika banyak orang mengalami kecemasan dan ketakutan, menghindari kontak dengan orang – orang yang diduga atau menderita infeksi virus COVID-19, mereka justru melaksanakan pelayanan sebagai ATLM dengan kontak dengan penderita untuk melakukan pengambilan sampel dan pemeriksaan di laboratorium. Salam hormat dan terima kasih untukmu rekan-rekan ATLM, tim medis dan anda semua yang secara pribadi maupun kelompok tersentuh dan tergerak hati bersama – sama secara nyata melawan virus COVID-19.
Maria Nuraeni, SKM., M. Kes (Sr.M.Yuventia, FCh) (Dosen Prodi D.4 Teknologi Laboratorium Medis Fikes UKMC Palembang)
Dalam ajaran Katolik tentu kita sadar bahwa ada dua hukum utama. Hukum utama yang pertama adalah Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu (Markus 12:30). Dan Hukum Utama yang kedua Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Markus 12:31).
Kedua hukum ini memberikan gambaran kepada kita bahwa sebagai orang beriman kita perlu menyelaraskan relasi kita dengan Sang Pencipta dan juga dengan sesama manusia. Dengan semakin berkembangnya zaman tentu manusia akan dihadapkan dengan berbagai tantangan dan kondisi yang semakin kompleks. Teguh dalam iman dan peduli dengan permasalah kontektual yang ada di lingkungan sosial kemasyarakatan menjadi hal yang perlu untuk kita refleksikan bersama.
Ada banyak sekali fenomena di mana orang-orang kehilangan rasa religiusitasnya karena dihimpit oleh persoalan sosial dan ekomoni. Namun, di sisi lain juga banyak ditemukan orang-orang yang abai dengan kondisi sosial dan lingkunganya karena keimanan yang egois.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana sebagai orang Katolik yang beriman menyikapi persoalan-persoalan yang ada disekitar kita. Untuk menjawab pertanyaan itu tentu kita membutuhkan sebuah ruang diskusi yang baik, sehingga ISKA DPC Kota Palembang menyelenggarakan Diskusi bersama mengajak Umat untuk Mengenal Ajaran Sosial Gereja (ASG).
Diskusi Bersama mengenal ASG ini diselengarakan di Aula Pastoran Paroki Santo Yoseph Palembang pada tanggal 13 Februari 2020. Kegiatan diskusi bersama ini diselengarakan atas kerjasama berbagai kelompok organisasi katolik di Kota Palembang seperti Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Pemuda Katolik (PK), dan Juga Kerawam. Dalam kegiatan ini dihadiri sekitar 70 peserta dari berbagai profesi dan kalangan.
Narasumber dalam diskusi ini adalah Dewan Pakar ISKA DPC Kota Palembang Dr. Hendro Setiawan. Dalam materi pembuka diskusi ini Dr. Hendro Setiawan menyampaikan bahwa ASG dengan seluruh dinamikanya mendampingi manusia untuk mencari pemecahan masalah-masalah yang aktuil yang dihadapi oleh manusia. Dasar dari ASG adalah Inji dan juga pemikiran-pemikiran orang kudus.
Lembaga-lembaga pendidikan dan organisasi-organisasi awam Katolik seharusnya mengambil tiga peran dalam kehidupan sosial. Pertama membina kesadaran yang lebih peka terhadap kepincangan-kepincangan serta ketidakadilan dalam masyarakat. Sebagai orang Katolik tentu kita tidak boleh acuh tak acuh atau masa bodoh terhadap permasalahan ketidak-adilan yang ada.
Banyak permasalahan sosial yang terjadi dan itu membutuhkan peran serta kita sebagai orang beriman Katolik. Permasalahan ekonomi, permasalahan pendidikan, permasalahan hukum, permasalahan politik dan permasalahan-permasalahan lainya. Kita tidak boleh hanya peduli dan bereaksi dengan permasalahan dan ketika-adilan yang kita hadapi, semisal ada pelarangan pendirian gereja. Kita harus bisa melihat permasalahan lebih dari itu, sebagai garam kita tidak boleh hanya mengasini kaum kita sendiri tetapi semuanya.
Peran kedua yang dijelaskan oleh Dr Hendro Setiawan adalah memperlihatkan akar masalah dari kepincangan-kepincangan dalam masyarakat dan cara memeranginya. Sebagai gereja kita harus bisa berfikir lebih dalam ketika melihat permasalahan yang ada. Sebagai contoh ketika berbicara global warming atau pemanasan global. Apakah dengan tidak menggunakan produk-produk plastik yang dianggap sebagai salah satu penyumbang pemanasan global atau menanam pohon di halaman rumah sebagai cara untuk membuat lingkungan asri sudah cukup. Untuk skala kecil tentu ya, namun kita tidak boleh berhenti hanya dengan cara-cara tersebut. Kita harus bisa melihat pemasalahan dan mencari solusi yang lebih dari itu.
Peran ketiga adalah pendidikan sejak muda untuk melibatkan diri dalam usaha menciptakan keadilan dalam masyarakat. Pendidikan-pendidikan dan organisasi awam katolik harus bisa menjadi motor dalam menanamkan kepedulian-kepedulian dari sejak dini kepada umat Katolik untuk memiliki kepedulian yang tinggi terhadap permasalahan-pernasalahan sosial yang ada di masyarakat.
Dalam diskusi ini juga Dr Hendro Setiawan menjelaskan bahwa ASG mengalami perkembangan dari masa ke masa sesuai dengan jamannya. ASG yang pertama adalah Rerum Novarum yang dibuat oleh Bapa Paus Leo XIII. Rerum Novarum menekankan pada ketidakadilan dalam pembagian kelas sistem kapitalisme dan berupaya mengembalikan martabat manusia.
Dokumen ASG yang kedua adalah Quadragesimo Anno yang dibuat oleh Bapa Paus Pius XI. Quadragesimo Anno menekankan pada mengangkat nilai-nilai moral gereja tentang hak-hak kepemilikan. Dokumen selajutnya Mater et Magistra (Ibu dan Guru) menekankan pada keterbukaan Gereja terhadap hal-hal yang baru dan permasalah kesenjangan sosial yang parah. Dokumen ASG Pacem in Terris yang mengangkat tema kehendak baik yang ada dalam semua orang untuk mengupayakan perdamaian dan dan kehidupan yang baik.
Dokumen-dokumen ASG ini terus berkembang sampai dengan sekarang. Pada Tahun 2015 dibuat dokumen ASG yang membahas tentang lingkungan hidup dan krisis ekologis yang dibuat oleh Bapa Paus Fransiskus yaitu Laodato Si. Dalam Ensiklik ini Bapa Paus mengkritik konsumerisme dan pembangunan yang tidak terkendali, menyesalkan terjadinya kesurakan lingkungan dan pemanasan global, serta mengajak semua orang di seluruh dunia untuk mengambil aksi nyata untuk mengatasi permsalahan ini.
Pada Tahun 2016 dibuat dokumen ASG yang fokus membahas tentang keluarga yaitu Amoris Laetitia. Ensiklik ini dibuat oleh juga oleh Bapa Paus Fransiskus. Dalam Amoris Laetitia menekankan pada pentinya kasih sayang dalam membangun keluarga harmonis. Dalam dokumen ini Gereja Katolik hanya mengakui perkawinan antara laki-laki dan perempuan. “Tidak ada dasar dalam rencana Tuhan bagi pernikahan sesame jenis: demikian pernyataan Paus Fransiskus dalam dalam dokumen ini,
Dalam diskusi ini hanya membahas ensiklik-ensiklik atau dokumen-dokumen ASG dari masa ke masa dan tidak membahas secara mendalam untuk dokumen tertentu. Oleh karena itu banyak pertanyaan dari para peserta tentang permasalahan-permasalahan aktuil yang dihadapi.
Salah satu pertanyaan adalah dari Bapak Y. Handoko yang menanyakan tentang apakah ASG ini dapat berlaku secara lokal sesuai dengan kondisi daerah tertentu dan apakah suatu saat jika ada teknologi yang saat ini belum ada juga diatur dalam ASG. Menjawab pertanyaan ini Dr. Hendro Setiawan menjelaskan bahwa semua ensiklik ASG dibuat karena keprihatinan Bapa Suci terhadap permasalahan sosial yang ada dimasyarakat. Tentu apa yang ada di dalam ASG dapat dilihat dan dipadukan dengan permasalahan yang ada pada daerah tertentu dan kondisi tertentu. Berkaitan dengan teknologi juga sudah diatur di dala ASG. Apapun teknologi yang dikembangkan dan dibuat oleh manusia yang tidak memberikan manfaat yang baik bagi kehidupan manusia tentu tidak sesuai dengan ajaran Yesus, maka tidak dianjurkan dalam ASG.
Dalam kegiatan diskusi ini Dr. Hendro Setiawan mengajak umat untuk mau dan mulai memahagi ASG secara mendalam. “Dikemudian hari kita bisa membahasan secara lebih detail tentang satu dokomen, sehinggal kita memiliki pemahaman yang baik tentang ASG” ungkap Dr. Hendro Setiawan.
Dari dikusi ini dapat
kita simpulkan bahwa kita sebagai orang Katolik harus bisa menjadi garam dan terang dunia. Garam yang tidak hanya
memberikan asin dan terang yang tidak hanya memberikan sinar kepada sesama
Katolik, tetapi juga kepada semua orang. Seperti Tuhan Yeses yang datang
kedunia untuk menjadi juru selamat umat manusia. Sebagai umat Katolik kita juga
sudah memiliki pedoman-pedoman sesuai dengan Injil Kitab Suci tentang bagaimana
kita harus bersikap terhadap pemasalahan dan juga ketidak-adilan yang terjadi
di tengah-tengah masyarakat. Pemahaman ASG dapat membantu kita untuk
memperjuangkan dunia yang adil dan damai, seraya menghormati hak-hak asasi
manusia, toleran dan menghargai semua orang.
Ada moto yang mengatakan: “Pemenang mencari solusi, pecundang hanya mengeluh”.
Dalam situasi sulit seperti saat ini dimana kita sedang dilanda wabah corona, ada macam-macam sikap orang. Ada yang mengeluh :
“kok masalah berat sekali”, “tidak bisa bekerja”, “penghasilan berkurang”, “pemerintah tidak bijak”, “koq tidak adil”, dan lainnya
Belum lagi muncul tuntutan-tuntutan seperti :
“pemerintah harus me-lockdown”, “pemerintah harus mengelontorkan dana”, dan lainnya lagi
Bahkan ada tuntutan supaya pemerintah memberikan santunan, bagi sembako, pulsa gratis, listrik gratis, dan lain-lain. Kita tidak sadar bahwa pemerintah sudah sangat pusing, dan saya percaya sudah berusaha mati-matian dengan mempertimbangkan segala hal.
Dari pada mengeluh dan menuntut baiklah kita memikirkan apa yang bisa kita buat. Ada banyak hal sebenarnya yang bisa kita buat, untuk diri sendiri, keluarga, bahkan masyarakat, dan lainnya.
Saya melihat ada beberapa orang menginspirasi kita, lepas dari setuju atau tidak kita dengan yang dibuatnya. Ada video seorang bapak tua yang membagi beras dan uang kepada tukang becak, pedagang asongan, dan lainnya. Dia melihat merekalah yang sangat terkena dampak dari wabah ini. Dia juga mengajak orang-orang yang mampu untuk berbagi. Ada juga video sekelompok orang memberi nasi kotak kepada tukang becak dan ojek oline.
Hal ini cukup menginsirasi dan mengajak kita bermenung apa yang bisa kita buat. Di keuskupan kita juga muncul ide dari anak-anak muda ‘apa yang bisa kita buat’ didukung oleh orang dewasa dan tokoh-tokoh umat. Saya sungguh tersentuh. Maka terbentuklah Crisis Center Corona Keuskupan Agung Palembang (CCC Kapal).
Yang menarik semua terjadi secara online dan hampir tidak pernah bertemu. Bagaimana kita berkontribusi untuk membantu pemerintah mengatasi wabah corona ini.
Tidak hanya mengeluh dan menuntut. Kemudian kelompok ini memikirkan untuk mencari solusi soal misa online yang akhirnya bisa terintegrasi dan tertata. Kelihatan kesatuan dan kekompakannya. Ada tim humas. Terbentuk juga tim layanan konsultasi. Semua menurut saya contoh yang menginspisrasi kita untuk berbuat.
Mari kita menjadi bagian dari pencari solusi bukan hanya mengeluh dan menuntut. Kita adalah pemenang! Setidaknya kalau kita tidak bisa berbuat, mari kita ikuti anjuran pemerintah: tinggal di rumah dan menjaga kebersihan serta kesehatan.
Esensi Kuliah
Daring (Online, e-Learning) atau
Pembelajaran Jarak jauh (PJJ)
Virus Corona atau Covid-19 yang mengepung Indonesia tampaknya belum bisa diredam. Penyebarannya yang masif dan relatif cepat membuat orang terpaksa harus berdiam diri di rumah demi memutus rantai penularan Covid-19. Pemerintah telah menyampaikan kebijakan terkait pencegahan dan memutus rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia. Dalam Surat Edaran Mendikbud No. 3 Tahun 2020 tentang pencegahan Covid-19 pada Satuan Pendidikan, dan No. 36962/MPK.A/HK/2020 proses belajar mengajar (PBM) di perguruan tinggi dilakukan secara kuliah daring (dalam jaringan), online, e-learning, pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau online course dari rumah dalam rangka pencegahan Covid-19.
Disi
lain, tujuan esensial PBM adalah mentransfer ilmu dari dosen ke mahasiswa/i
sehingga mahasiswa/i memahami apa yang diberikan oleh dosen, yang semula tidak
tahu menjadi tahu. Filosofi
pendidikan yang krusial lain adalah mindset
mahasiswa/i dalam PBM adalah memahami ilmu kemudian menerapkan, bukan hanya
nilai yang diburu. Sayangnya, tidak semua dosen memahami betul bagaimana
dan apa yang dimaksudkan dengan kuliah daring. Padahal yang dimaksudkan dengan
sistem kuliah daring, yaitu sistem perkuliahan yang memanfaatkan akses internet
sebagai media PBM yang dirancang dan ditampilkan dalam bentuk modul kuliah,
rekaman video, audio, atau tulisan oleh pihak universitas. Pada kenyataanya di
lapangan justru sebagai ajang dosen untuk memberikan tugas bagi mahasiswa/i, sehingga
bukanlah kuliah daring yang terjadi tapi tugas daring. Sebenarnya hal tersebut
tidak sepenuhnya salah, tapi coba kita bayangkan apabila setiap dosen
menerapkan sistem yang sedemikian rupa, menggantikan materi tatap muka dengan
tugas yang cukup banyak dengan waktu yang terbatas tidak menutup kemungkinan
mahasiswa/i akan kewalahan dan PBM menjadi tidak maksimal. Tidak sedikit mahasiswa/i yang
mengeluhkan hal tersebut karena banyak kendala yang mereka temui tatkala
menggunakan sistem daring.
Kuliah
daring yang dilaksanakan dari rumah awalnya bagi sebagian orang, baik
mahasiswa/i, orang tua mahasiswa/i, dan para dosen menjadi persoalan terutama
dalam pemilihan media komunikasi untuk pembelajaran dan metode belajar. Civitas
akademika perguruan tinggi harus beradaptasi, belajar di rumah non tatap muka. Have to work from home. Semua berubah
cepat, dan harus mau beradaptasi. Adaptasi teknologi, jam kerja, cara kerja dan
belajar. Penerapan kuliah daring ini menuntut
kesiapan bagi kedua belah pihak, baik itu dari penyedia layanan pendidikan (perguruan
tinggi) atau dari peserta didik sendiri (mahasiswa/i). Pembelajaran secara
daring membutuhkan bantuan teknologi yang mumpuni dan dapat diakses dengan
mudah. Kuliah daring semacam ini justru dapat menjadi alternatif jitu sebagai
ganti pertemuan kelas tatap muka langsung.
Kebijakan
kuliah daring menuai pro dan kontra jika ditinjau dari efektivitasnya. Mahasiswa/i
yang kontra memandang ketidakefektifan terjadi saat PBM tatap muka secara
langsung (offline) saja terkadang
masih harus membutuhkan pemahaman ekstra, dengan kuliah daring mahasiswa/i
dituntut untuk belajar dan memahami sendiri materi yang disampaikan. Selain
itu, tidak semua mahasiswa mendapatkan fasilitas wifi sehingga harus merogoh kocek yang lebih dalam lagi untuk
membeli kuota. Beberapa
keresahan mahasiswa/i terkait dengan diberlakukannya sistem kuliah daring,
antara lain: kendala sinyal yang menjadi hambatan dalam mengakses materi/modul
perkuliahan, beberapa alat elektronik mengharuskan terhubung dengan listrik,
jika listrik mati sulit presensi dan PBM, pengumpulan tugas secara daring
membuka peluang untuk copy paste
semakin tinggi, dan mahasiswa/i menjadi tidak leluasa dalam PBM karena tidak
terjadi komunikasi 2 arah antara mahasiswa/i secara tatap muka. Sedangkan
dianggap cukup efektif saat mahasiswa/i dapat mengakases modul perkuliahan
dimana pun dan kapan pun, sehingga mahasiswa/i dapat menyesuaikan jam belajar
masing-masing. Selain itu, kuliah
daring merupakan salah satu tindakan preventif untuk menekan penyebaran Covid-19,
dengan melakukan social/physical
distancing yang dapat mengurangi intensitas interaksi antara carier dan calon korban selanjutnya.
Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menghimbau para dosen untuk mewujudkan
kuliah daring yang bermakna bagi mahasiswa/i, tidak hanya berfokus pada capaian
akademik atau kognitif semata, namun juga menekankan pada perkembangan ‘life skill’ dan karakter. Untuk
pendidikan life skill, mahasiswa/i,
dan dosen bisa menjadikan aktivitas memahami pandemik Covid-19 sebagai materi PBM.
Mulai dari penjelasan tentang virus hingga langkah-langkah pencegahan dikaitkan
dengan materi mata kuliah yang direlevansikan dalam Rencana Pembelajaran
Semester (RPS). Dengan begitu mahasiswa/i memiliki wawasan tentang apa yang
terjadi di sekitarnya dan mampu melindungi diri dan sesamanya. Di sisi lain
karakter merupakan ciri khas individu yang ditunjukkan melalui cara bersikap,
berperilaku, dan bertindak untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkungan
kampus, keluarga, maupun masyarakat. Mahasiswa/i yang memiliki karakter baik
akan menjadi orang dewasa yang mampu membuat keputusan dengan baik dan tepat
serta siap mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil. Karakter baik yang
ditanamkan pada tiap individu mahasiswa/i, antara lain; religius, cinta
kebersihan dan lingkungan, sikap jujur, sikap peduli, dan rasa cinta tanah air
(Kemendikbud, 2020).
Tantangan
dan Sisi Humanis di UKMC: Menciptakan Kreativitas dan Inovasi
Media
kuliah daring yang banyak digunakan antara lain; aplikasi medsos; Facebook,
Youtube, IG, WA, Line, Zoom, Microsoft Team, Google Classroom, Moodle, Zoom.us,
Skype, platform aplikasi yang
disediakan oleh Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC), yaitu portal
akademik.ukmc.ac.id, dll, baik hanya dalam bentuk pengiriman bahan ajar maupun
komunikasi melalui teleconference. Sisi
lain yang menarik untuk diamati penerapan kuliah daring di lingkungan UKMC adalah
adanya ketidakberterimaan, kekacauan, kelucuan, kegelisahan, keribetan, dan
berbagai situasi lainnya yang sebelumnya mungkin tidak terbayangkan akan terjadi
baik oleh dosen dan mahasiswa/i. Hal tersebut terjadi karena mengubah habit dosen dan mahasiswa/i tidak
gampang, disparitas usia dosen dan kreativitas penggunakan teknologi juga
resisten di kalangan dosen dan mahasiswa/i tertentu.
Dalam kuliah daring, dosen UKMC harus ikut berinteraksi dan berkomunikasi membantu mahasiswa/i dalam memahami materi PBM dan mengerjakan tugas, tidak hanya memberikan tugas saja. Sehingga keluhan mahasiswa/i terkait dengan tugas-tugas yang diberikan cukup berat dan banyak namun tidak dibimbing oleh dosen dapat dieleminir. Untuk menghindari kemungkinan mahasiswa/i, dosen menjadi stress belajar daring bukan berarti harus 100 persen online. Dosen diminta untuk merancang metode penilaian capaian pembelajaran yang menyesuaikan dengan RPS yang sedikit di-’releks’-kan dan mempertimbangkan kesiapan dosen, kewajaran beban kerja, dan kemudahan akses mahasiswa/i. Proses praktikum klinik atau tempat praktik-praktik lainnya yang tidak langsung berhubungan dengan penanganan Covid-19 diminta agar dibatasi dan digantikan dengan model perkuliahan daring atau ditunda hingga keadaan membaik. Sementara soal penyelesaian tugas akhir/skripsi didorong menggunakan metode yang memanfaatkan data sekunder atau studi literatur, karena data primer akan sulit didapat dalam situasi seperti ini. Sidang/ujian tugas akhir/skripsi juga didorong secara daring dengan teleconference. Kegiatan PBM dan Tri Dharma UKMC dilakukan secara daring, termasuk Ujian Tengah Semester (UTS), praktikum (kecuali praktikum yang tidak memungkinkan via daring maka akan dijadwalkan ulang pada saat periode semester pendek/sisipan).
Tidak semua daerah asal mahasiswa/i UKMC mempunyai akses smartphone atau koneksi internet yang baik. Kendala yang dialami dosen adalah tidak bisa mengontrol seluruh kondisi mahasiswa. Namun, selama ada diskusi aktif, bertanya, disiplin dan menepati waktu, kuliah daring akan efektif. Kuota internet yang cepat habis dan memori yang cepat penuh, bisa disiasati dengan menyiapkan space memori dan mengirimkan video sebelum PBM berlangsung, presentasi secara online lancar, mahasiswa/i mampu pempresentasikan materinya memakai teknologi video, kemudian menjawab berbagai pertanyaan dan tanggapan. Kesulitan ketika dosen memberi materi kemudian langsung memberi tugas, penjelasan yang hanya diketik juga kadang sulit memahaminya, meskipun kadang dosen sudah memberi penjelasan melalui pesan suara. Dateline tugas kuliah daring yang pendek juga terkendala ketika jaringan lambat, server error, dosen hanya memberikan materi, tanpa mengirimkan voice note (pesan suara) dan tanpa video pembelajarannya untuk menjelaskan materi tersebut, dan lainnya, menambah tantangan kuliah daring & sisi humanis dosen-mahasiswa/i di lingkungan UKMC selalu memiliki rahmat tersembunyi (blessing in disguise) yang justru mendorong penciptaan kreativitas dan inovasi dosen-mahasiswa/i dalam complex problem solving. Dalam kondisi ini berkreasi supaya materi PBM dan tugas-tugas untuk peningkatan kompetensi mahasiswa tetap dapat diperoleh.
Tips Penerapan Kuliah Daring atau PJJ yang
Efektif
Tetapkan Manajemen Waktu Mahasiswa/i mengatur waktu belajar dengan teratur, mengerjakan dengan fokus tugas yang dibebankan dosen. Universitas memberikan batasan jadwal akses daring dan fleksibilitas penuh kepada mahasiswa/i. Bagi mahasiswa/i yang belum terbiasa belajar mandiri, biasanya akan mengerjakan tugas-tugas kuliah di menit-menit terakhir tenggat waktu yang ditetapkan. Oleh sebab itu, membiasakan diri untuk belajar dan mengerjakan tugas di awal waktu adalah keterampilan yang mesti ditanamkan kepada mahasiswa/i yang melakukan remote learning.
Persiapkan Teknologi yang Dibutuhkan Para mahasiswa/i harus mengetahui peralatan-peralatan apa saja yang dibutuhkan untuk melakukan kuliah daring, disarankan menggunakan beberapa platform belajar daring alternatif. Demikian juga perkakas teknologi seperti; komputer, smartphone, atau tablet, dan jaringan internet yang laik, menyiapkan kuota internet dan mencari tempat belajar yang nyaman dan dapat menangkap sinyal dengan baik.
Belajarlah dengan Serius Kesalahan yang sering dilakukan para mahasiswa/i adalah tidak fokus ketika melakukan PBM secara daring, terdapat banyak sekali distraksi yang mengganggu; godaan untuk menonton video, mengakses medsos, hingga membaca-baca konten berita secara impulsif seringkali dilakukan tanpa rencana sebelumnya. Oleh sebab itu, penting untuk berusaha fokus dan konsisten selama waktu PBM yang ditetapkan. Tetapkan ruang khusus untuk belajar dan menjauhkan diri dari gangguan anggota keluarga yang lain. Para mahasiswa/i harus belajar dan tahu tujuan dari kuliah (outcome learning). Para mahasiswa/i memiliki motivasi yang sungguh-sungguh; membaca terlebih dahulu materi yang akan dibahas, aktif mendengarkan, membaca, bertanya dan menanggapi.
Jaga Komunikasi dengan Dosen dan Rekan Mahasiswa/i lainnya Para mahasiswa/i harus visibel dan berkomunikasi tanggap dengan dosen atau rekan-rekannya. Buat grup khusus untuk membahas tugas yang dibebankan dosen. Komunikasi mesti terjalin dengan baik untuk menghindari kesalahpahaman. Gunakan momen-momen semacam ini untuk mengasah keterampilan komunikasi daring Anda. Jika memang belum yakin dengan hasil tugas yang dikerjakan, segera hubungi dosen Anda. Lakukan sesegera mungkin untuk menunjukkan komitmen bahwa Anda serius untuk belajar.
Saat ini semua orang khawatir dengan penyebaran virus corona. Sampai-sampai semua sekolah memutuskan untuk meliburkan segala aktivitas yang ada di sekolah. Anak-anak dari TK-SD-SMP-SMA dan Universitas melaksanakan belajar di rumah secara daring alias libur sekolah. Walaupun libur, bukan berarti orang tua dan anak bisa pergi liburan ke tempat-tempat yang menyenangkan. Justru, saat ini masyarakat diharapkan untuk bisa tinggal di dalam rumah. Sayangnya, anak-anak belum terbiasa dengan kondisi ini. Sehingga, banyak dari mereka yang merasa bosan dan meminta untuk bermain di luar rumah malahan pergi ke mall ataupun tempat rekreasi.
Di tengah penyebaran virus corona jenis baru penyebab Covid-19 di Indonesia, sejumlah pemerintah daerah di Indonesia termasuk kota Palembang memberlakukan penghentian aktivitas pendidikan dengan meliburkan sekolah-sekolah selama yang semula 2 minggu yaitu tanggal 16-28 Maret 2020 selanjutnya di tambah lagi belajar di rumahnya sampai tanggal 13 April 2020 atau sampai kapan belum tahu kita ? Para siswa diminta melanjutkan belajarnya di rumah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kerumunan yang memungkinkan kontak antara banyak orang bertujuan menekan laju penyebaran virus corona.
Selama 4 minggu ini, orangtua diharapkan bisa menjadi “guru” yang mengisi kegiatan anak-anaknya. Selain itu, menemani mereka mengikuti kegiatan belajar secara online atau daring. Anjurannya, jangan mengajak anak ke luar rumah. Oleh karena itu, diperlukan berbagai alternatif kegiatan yang bisa dilakukan anak. Demi menjaga keselamatan anak, banyak sekolah yang harus meliburkan kegiatan belajar dan mengajar. Namun, bukan berarti anak juga harus libur belajar selama di rumah.
Di sinilah, peran orang tua sangat dituntut dengan baik. Meskipun anak libur, bukan berarti kita bisa mengajak anak pergi ke luar rumah dengan leluasa. Tak heran, bila kondisi ini membuat anak merasa bosan. Nah, agar anak tidak merasa bosan, kita bisa menyiapkan beberapa permainan yang seru.
Di antara adalah petak umpet, bermain rumah-rumahan atau memainkan permainan yang disukai oleh anak. Jika memungkinkan orang tua bisa membuat jenis permainan baru yang bisa meningkatkan kreativitas anak. Daripada anak merasa bosan dengan tidak melakukan apapun. Kita bisa meminta anak untuk membantu pekerjaan rumah yang mudah. Salah satu contohnya adalah merapikan mainan yang telah ia mainkan atau belajar untuk membersihkan tempat tidur. Selain membuat anak tidak merasa bosan, cara ini juga bisa mengajarkan mereka menjadi orang yang lebih rapi dan bersih.
Orangtua dapat membuat kue atau camilan bersama anak, daripada harus membeli camilan keluar rumah. Selain memiliki harga yang lebih murah, kita juga akan lebih tahu tentang kualitas gizi yang terkandung di dalam camilan tersebut. Agar kegiatan memasak lebih menyenangkan, kita bisa mengajak anak untuk belajar memasak. Kita tidak perlu memasak camilan yang ribet, cukup dengan bahan yang sederhana, anak pasti akan merasa senang untuk melakukan kegiatan ini.
Tidak bisa dimungkiri bahwa liburnya anak dari sekolah, membuat intensitas waktu orang tua dan anak semakin banyak. Oleh karena itu, manfaatkanlah waktu tersebut dengan sebaik mungkin. Tingkatkanlah komunikasi di antara orang tua dan anak. Karena bisa jadi ada banyak hal yang sebenarnya ingin disampaikan oleh anak-anak kita.
Yang harus ditanamkan dalam pikiran adalah tidak menganggap kondisi saat ini menjadi sebuah beban. “Jangan hanya melihat momen ini sebagai beban. Lihatlah sebagai kesempatan untuk menjalin hubungan bersama anak. Selanjutnya, cobalah bekerja sama dengan anak sebagai tim yang akan saling membantu mencari solusi bersama jika terjadi kesulitan. Membantu anak belajar dengan cara yang seru dan menciptakan suasana belajar menyenangkan di rumah. Cara ini juga menjadi jalan untuk menyamakan persepsi dan mengurangi konflik antara orangtua dan anak.
Diskusikan dengan anak tentang do and don’t. Buat kesepakatan penggunaan gadget, durasi pemakaian, dan kegiatan yang dilakukan dengan gadget. orangtua bisa membuat proses belajar berlangsung menggunakan sistem menu. Jadi, anak diberi kebebasan untuk menentukan kegiatan apa yang ingin mereka lakukan pertama dan selanjutnya. Hal ini penting dilakukan karena situasi belajar di rumah tentu sangat berbeda dengan situasi belajar di sekolah yang cenderung formal. “Yang penting fokus pada target harian yang penting target harian terpenuhi.”
Oleh karenanya, menghadapi wabah ini mesti adanya kesadaran dan kontribusi semua pihak termasuk masyarakat untuk mematuhi arahan pemerintah dan mengikuti protokol keselamatan dengan: Menjalankan dan menerapkan Protokol Kewaspadaan dan Pencegahan Covid-19 dengan baik, mempraktikkan dan membudayakan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sesuai dengan pedoman yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tidak beraktivitas ketempat kerja jika mengalami sakit atau mengalami penurunan kondisi kesehatan, bagi yang mengalami gejala infeksi Covid-19 seperti demam, batuk, influeinza, dan nyeri tenggorokan, diminta untuk segera memeriksakan diri ke rumah sakit rujukan terdekat yang sudah ditunjuk pemerintah, seseorang yang baru kembali dari daerah yang terinfeksi Covid-19, atau memiliki riwayat kontak dengan pasien terkontaminasi positif Covid-19, diwajibkan untuk melaporkan diri ke Dinas setempat untuk mendapatkan arahan lebih lanjut.
Pelaksanaan kegiatan lain yang melibatkan banyak peserta, pangunjung, undangan (melebihi 50 orang) sebagaimana kiteria WHO, diinstruksikan untuk dijadwal ulang sampai dengan keadaan memungkinkan, kegiatan kunjungan di dalam negeri yang tidak penting, untuk ditunda dan dijadwalkan ulang, berlakukan Partial Lockdown, Self Isolation, dan Social Distancing segera sebelum terlambat dan epidemi semakin menyebar. perkuat Sistem IMUN, dengan mengkonsumsi vitamin C, sayur buah dan makanan sehat dan bergizi.
Pertebal juga Sistem IMUN, gunakan Masker menutup hidung dan mulut bagi yang memerlukan, jaga Jarak minimal 1 meter, jangan mendekat, hindari berjabat tangan dan berpelukan, kontak tangan dan fisik, lebih sering Cuci Tangan, hindari memegang Muka, tidur cukup dan olahraga, juga jangan panik, jangan meremehkan tapi tetap waspada , perbanyak Doa dan tingkatkan Taqwa.
Ingat! Diliburkan untuk karantina dan isolasi diri untuk mengurangi risiko pengebaran COVID-19, bukan liburan. Perlakukan diri kita seolah sudah terkena virus agar lebih waspada sehingga orang lain tidak terjangkit. Jika self isolation, partial lockdown atau social distancing berhasil diharapkan dapat menekan meledaknya grafik penyebaran virus dan di saat bersamaan memberikan waktu untuk yang sakit dapat sembuh (recovery), serta tenaga kesehatan dan jumlah fasilitas kesehatan mampu menampung untuk menangani pasien.
Jadi masing-masing diri harus sadar dan tahu diri menyikapi kondisi ini dengan bijak. Jika kita masih “bandel” dan tidak bekerja sama, maka self isolation atau karantina mandiri 14 hari jadi PERCUMA atau SIA-SIA untuk mencegah penyebaran. Bahkan sebaliknya, ketika ajang karantina diliburkan malah liburan ketika nanti saatnya mendekati 14 hari semua orang aktif beraktivitas kembali justru disitu awal ledakan terjadi karena semua berkumpul dan saling tidak mengetahui bahwa masing-masing diri telah menjadi “hidden spreader” atau “silent killer” penyebar virus. Terlebih saat gangguan kecemasan muncul.
Meski seolah tampak membosankan, pembatasan sosial dengan bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah tetap bisa berdampak positif, khususnya dalam membangun kembali komunikasi dan keharmonisan dalam keluarga yang sulit dilakukan selama hari-hari libur biasa. Orangtua dan orang dewasa memiliki peran penting untuk bisa mengelola cemas mereka selama pandemi dan orang tua merasakan bagaimana seorang guru di kelas menghadapi peserta didiknya yang lebih dari 25 anak. Ini saja orangtua di rumah baru menghadapi satu atau dua anaknya tentu sudah stress. Supaya kecemasan itu tidak menular dan berimbas kepada anak-anak mereka yang umumnya masih bingung dengan berbagai hal yang berubah dan mendadak terjadi. Semoga bencana virus covid 19 ini cepat berlalu dan anak-anak bangsa dapat melanjutkan pendidikan seperti semula guna menggapai cita-cita yang mereka harapkan.
(A. Daris Awalistyo S.Pd., Pendidik di SDK Frater Xaverius 2 Palembang)
ISKA (Ikatan Sarjana Katolik Indonesia) DPC Kota Palembang bertujuan mengoptimalkan peran sarjana/cendekiawan Katolik meningkatkan iman & ilmu pengetahuan secara berkesinambungan demi kebaikan sesama manusia dalam pengabdiannya kepada masyarakat, bangsa, negara, & gereja.
ISKA DPC Palembang berupaya membagi sedikit pemikiran & pesan berupa artikel ringan penyemangat untuk membalik pola pikir warga agar tetap optimis di saat krisis wabah virus Corona (Covid-19) sehinga secara alami imun tubuhnya akan keluar. Sekarang waktunya kita melawan Covid-19 dengan berpikir positif & merasakan emosi positif, menggerakkan vibrasi positif untuk diri sendiri & lingkungan, menyebar informasi yang sifatnya meneduhkan.
Informasi yang menenangkan berguna untuk kebaikan diri sendiri dan bersama, serta menjadi upaya yang bisa kita berikan sebagai bentuk nyata kecintaan & perjuangan kita untuk NKRI. Apapun yang kita ucapkan dapat berdampak baik pada kemajuan atau sebaliknya kehancuran orang lain. Informasi yang justru semakin menguatkan berbagai emosi negatif, seperti: takut, khawatir, cemas, merasa tidak berdaya, dll. justru akan melahirkan Coronaphobia & psikosomatis Covid-19.
Oleh sebab itu harus dilawan dengan pesan penyemangat ke warga yang membalik pola pikir/ mental & optimis. Mulai hari ini dengan mengucapkan kata-kata positif & membangun. Hati & pikiran yang kita miliki adalah kunci kita mau sehat atau kita mau sakit.
Patuhi himbauan pemerintah untuk social/physical distancing, ikuti protokol penanganan Covid-19, stay at home (bekerja, sekolah, kuliah, beribadah dari rumah), & enjoylife (sosmed distancing yang pesimis
& negatif).
Akhirnya, selamat melayani & jadi berkat di saat krisis Covid-19. Berkat Tuhan & salam untuk keluarga yang kita sayangi.
Dr.Heri Setiawan, ST.,MT Ketua ISKA DPC Kota Palembang Periode 2019-2023
Beberapa saat setelah dilantik sebagai Menteri Kabinet Kerja, Mendikbud yang baru, Nadiem Anwar Makarim, telah membuat beberapa ‘gebrakan’ kebijakan yang membuat banyak orang, terutama yang berkecimpung di dunia pendidikan terbengong-bengong. Ketika banyak orang masih terkaget-kaget dengan keuputusan Presiden Jokowi melantik orang muda ( 35 tahun ) dengan latar belakang yang sama sekali jauh dari bidang pendidikan (Kemdikbud) ternyata dijawab oleh Nadiem dengan optimisme yang tinggi. Dia menyebutnya dengan istilah Kebijakan Merdeka Belajar. Nadiem melihat bahwa sistem pendidikan di Indonesia, baik pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi sangat jauh tertinggal di banding negara lain. Sistem pendidikan di Indonesia masih sangat konvensional, kurang bahkan tidak mampu mengikuti perkembangan dan perubahan zaman. Dia katakan bahwa salah satu penyebabnya adalah masih kurang percayanya pemerintah kepada peran guru (dosen). Pemerintah masih terus intervensi sampai pada tataran teknis pada peran guru sebagai pengajar dan pendidik.
Awal yang baik Dari beberapa gebrakan kebijakan Mendikbud Nadiem Makarim, saya lebih menyoroti kebijakan yang terkait dengan pendidikan dasar dan menengah, yaitu “kepercayaan pada peran guru yang mulai dikembalikan”. Ini sebuah awal yang baik. Pertama adalah tentang Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP adalah dinamika yang harus disiapkan guru setiap harinya. RPP adalah napas dan jantungnya para guru. Dulu RPP harus dibuat berlembar-lembar, dan cenderung dibuat bukan karena sebuah tuntutan pendampingan anak didik melainkan lebih karena tuntutan administrasi (persiapan akrditasi sekolah). Waktu guru habis di sini. Kini RPP cukup 1 halaman. Meski tetap dengan rambu-rambu penyusunannya namun kreativitas dan inovasi guru sebagai pengajar dan pendidik lebih diutamakan. Kedua, tentang Ujian Nasional (UN). Nadiem, yang mungkin juga generasi yang pernah merasakan UN, nampaknya paham betul bahwa kebijakan UN ternyata lebih banyak dampak negatifnya dibanding dampak positipnya, terutama dikaitkan dengan peran/tugas, wewenang, dan tanggung jawab guru. Sebagai seorang yang pernah terjun langsung bertahun-tahun sebagai pendidik saya masih ingat betul beberapa dampak negatif UN, antara lain :
Mempersiapkan / merancang pembelajaran, mengajar, mengevaluasi, dan memberikan penilaian peserta didik adalah tugas, wewenang, dan tanggung jawan guru. Ini amanat UU Sisdiknas No.20 tahun 2003. Namun dengan UN sebagian peran guru telah diambil alih pemerintah, karena soal UN dan hasilnya (nilai siswa ) diputuskan oleh negara.
Dengan UN, model / strategi pembelajaran yang telah dipersiapkan dalam RPP menjadi buyar “ambyar“ karena harus diganti dengan sistem drilling. Ini langkah yang “terpaksa” ditempuh kalau ingin hasil UN dengan model soal pilihan ganda ini baik. Model pembelajaran menjadi kaku, kering, gersang, dan membosankan. UN tidak bisa mencetak anak yang aktif, kreatif, inovatif tetapi mencetak anak yang “penurut”.
Hasil UN yang diharapkan bisa menjadi bahan pemetaan kemajuan pendidikan di semua wilayah di Indonesia sangat diragukan. Mengapa ? Ini karena standar pengawasan, mulai dari distribusi soal ke daerah-daerah sampai distribusi soal ke peserta didik tidak sama. SOP-nya memang sama tetapi implementasinya sangat jauh berbeda. Jadi tidak perlu heran kalu hasil UN di sekolah pedalaman Papua atau daerah lain lebih bagus dibanding di sekolah dalam kota di Pulau Jawa.
UN yang sempat sekian tahun menjadin penentu kelulusan telah mengabaikan peran yang sesungguhnya guru sebagai pengajar dan juga pendidik. Yang tahu persis potensi anak didik setiap harinya itu adalah guru, bukan pemerintah. Maka sangat tidak adil ketika anak didik divonis dengan UN.
Masih banyak lagi sisi negatif UN yang dirasakan oleh para guru, siswa, bahkan orang tua yang tidak perlu saya uraikan lebih lanjut. Biarlah itu sudah berlalu (Mendikbud telah memutuskan UN 2020 adalah UN terakhir) dan anggap saja itu bagian dari sebuah proses pendewasaan kita semua, pendewasaan bangasa Indonesia.
Menyongsong Era Baru Dengan diumumkannya oleh Mendikbud bebrapa waktu lalu, UN 2020 adalah UN terakhir menjadi angin segar bagi kita semua yang berkecimpung di dunia pendidikan terutama para guru. Namun juga sebagai tantangan yang harus dihadapi ketika kepercayaan telah dikembalikan. Para guru yang selama ini terjebak pada kegiatan administratif, ke depan banyak waktu yang bisa dikelola dengan baik dalam mendampingi anak didik. Bencana Virus Corona (Covid-19) kita ambil hikmahnya. Selain UN harus berakhir lebih cepat, guru dan siswa bekerja dan belajar di rumah, semua ditantang untuk bisa bekerja dan belajar “mandiri”. Semua akhirnya dituntut untuk kreatif, inovatif, memaksimalkan segala potensi yang dimiliki. Belajar on-line/ e-learning (daring) yang semula dianggap “tabu” kini ternyata bagian dari solusi yang harus dimaksimalkan.
Tetap semangat bapak, ibu guru, dan para siswa. Mari kita jawab kepercayaan ini, mari kita songsong Era Baru Pendidikan Indonesia.