Paus Fransiskus Mengutus Dua Kardinal ke Ukraina, Tempat “Sungai Darah dan Air Mata Mengalir”

Paus Fransiskus menyampaikan pidato Angelus-nya di Vatikan, 6 Maret 2022. | Vatikan Media.

Paus Fransiskus mengutuk invasi Rusia ke Ukraina dan menyatakan solidaritasnya dengan negara itu pada hari Minggu (6 Maret 2022).

“Sungai darah dan air mata mengalir di Ukraina,” dia memulai pidato Angelus-nya. “Ini bukan hanya operasi militer, tetapi perang, yang menabur kematian, kehancuran, dan kesengsaraan.”

Paus berusia 85 tahun berbicara kepada orang banyak yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus di Roma setelah Angelus, doa Maria, pada 6 Maret 2022. Di bawah sinar matahari yang cerah, umat Katolik berkumpul untuk berdoa bersama Paus, termasuk banyak orang yang berasal dari Ukraina, yang mengangkat bendera biru dan kuning negara mereka untuk dilihat semua orang yang hadir.

Pidatonya menggemakan kata-kata Uskup Agung  Sviatoslav Shevchuk, pemimpin Gereja Katolik Yunani Ukraina. Dua hari setelah Rusia memulai invasi skala penuh ke Ukraina, pada 26 Februari 2022, Uskup Agung Shevchuk mengutip pendahulunya, mendiang Kardinal Josyf Slipyj, yang menggambarkan “gunung mayat dan sungai darah” setelah Rusia menyerang Ukraina.

Paus Fransiskus menyatakan keinginannya untuk membantu rakyat Ukraina mencapai perdamaian.

“Takhta Suci siap untuk melakukan segalanya, untuk menempatkan dirinya dalam pelayanan perdamaian ini,” katanya, mengumumkan bahwa baru-baru ini dua kardinal melakukan lawatan ke Ukraina “untuk melayani rakyat, untuk membantu.”

Paus menyebut kedua kardinal itu sebagai almoner kepausan yaitu Kardinal Konrad Krajewski dan Kardinal Michael Czerny, prefek interim untuk Promosi Pembangunan Manusia Seutuhnya.

“Kehadiran dua kardinal di sana tidak hanya sebagai tanda kehadiran Paus, tetapi juga semua orang Katolik yang ingin lebih dekat dan berkata: “Perang itu gila! Tolong hentikan! Lihat kekejaman ini!’” seru Paus Fransiskus.

Paus mengulangi seruannya pada minggu sebelumnya bagi suatu koridor kemanusiaan bantuan kepada Ukraina.

“Jumlah korban semakin bertambah, begitu pula orang-orang yang mengungsi, terutama kaum perempuan dan anak-anak. Kebutuhan akan bantuan kemanusiaan di negara yang dirundung masalah itu tumbuh secara dramatis dari jam ke jam,” katanya.

“Saya mengimbau dengan sepenuh hati agar koridor kemanusiaan benar-benar diamankan, dan bantuan dijamin dan akses difasilitasi ke daerah-daerah yang terkepung,” tambahnya, “untuk menawarkan bantuan penting kepada saudara-saudari kita yang tertindas oleh bom dan ketakutan. ”

Paus berterima kasih kepada dua kelompok khusus yang membantu rakyat Ukraina yaitu mereka yang menyambut pengungsi dan jurnalis lokal.

“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para jurnalis yang mempertaruhkan nyawa untuk memberikan informasi,” ungkapnya. “Terima kasih, saudara-saudara, untuk layanan ini! Sebuah layanan yang memungkinkan kita untuk dekat dengan tragedi kemanusiaan itu dan memungkinkan kita untuk menilai kekejaman perang.”

Meskipun dia tidak menyebutkan wartawan atau negara tertentu yang membantu pengungsi, beberapa waktu yang lalu, Paus Fransiskus berterima kasih kepada orang-orang Polandia atas kemurahan hati mereka dalam menyambut mereka yang melarikan diri dari Ukraina.

Sejak awal invasi, Paus Fransiskus telah menyerukan perdamaian. Baru-baru ini Paus mendesak umat Katolik di seluruh dunia untuk berdoa dan berpuasa bagi Ukraina pada perayaan Rabu Abu, yang menandai awal Prapaskah, 2 Maret 2022.

Pada 25 Februari, Paus mengunjungi Kedutaan Besar Rusia untuk Takhta Suci, yang terletak dekat Vatikan. Penulis Katolik George Weigel mengatakan kepada Catholic World Report bahwa Paus berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin selama kunjungan tersebut. Pada hari yang sama, dia menelepon Uskup Agung Shevchuk untuk menyatakan dukungannya bagi perdamaian.

Hari berikutnya, Paus Fransiskus mengumumkan keprihatinannya atas situasi di Ukraina melalui pembicaraan via telepon dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Setelah berdoa Angelus, Paus menghimbau kembali untuk menghentikan peperangan.

Paus menyatakan, “Di atas segalanya, saya mohon agar serangan bersenjata dihentikan dan mengutamakan negosiasi serta akal sehat. Dan sekali lagi hukum internasional harus dihormati!”.

Paus mengajak umat Katolik yang berkumpul berdoa bersamanya mendaraskan doa Salam Maria.

“Mari kita berdoa bersama, sebagai saudara dan saudari, kepada Bunda Maria, Ratu Ukraina,” katanya.

Herman Endrayanto (Sumber: Katie Yoder, Catholic News Agency)