Pengantar

ISKA (Ikatan Sarjana Katolik Indonesia) DPC Kota Palembang bertujuan mengoptimalkan peran sarjana/cendekiawan Katolik meningkatkan iman & ilmu pengetahuan secara berkesinambungan demi kebaikan sesama manusia dalam pengabdiannya kepada masyarakat, bangsa, negara, & gereja.

ISKA DPC Palembang berupaya membagi sedikit pemikiran & pesan berupa artikel ringan penyemangat untuk membalik pola pikir warga agar tetap optimis di saat krisis wabah virus Corona (Covid-19) sehinga secara alami imun tubuhnya akan keluar. Sekarang waktunya kita melawan Covid-19 dengan berpikir positif & merasakan emosi positif, menggerakkan vibrasi positif untuk diri sendiri & lingkungan, menyebar informasi yang sifatnya meneduhkan.

Informasi yang menenangkan berguna untuk kebaikan diri sendiri dan bersama, serta menjadi upaya yang bisa kita berikan sebagai bentuk nyata kecintaan & perjuangan kita untuk NKRI. Apapun yang kita ucapkan dapat berdampak baik pada kemajuan atau sebaliknya kehancuran orang lain. Informasi yang justru semakin menguatkan berbagai emosi negatif, seperti: takut, khawatir, cemas, merasa tidak berdaya, dll. justru akan melahirkan Coronaphobia & psikosomatis Covid-19.

Oleh sebab itu harus dilawan dengan pesan penyemangat ke warga yang membalik pola pikir/ mental & optimis. Mulai hari ini dengan mengucapkan kata-kata positif & membangun. Hati & pikiran yang kita miliki adalah kunci kita mau sehat atau kita mau sakit.

Patuhi himbauan pemerintah untuk social/physical distancing, ikuti protokol penanganan Covid-19, stay at home (bekerja, sekolah, kuliah, beribadah dari rumah), & enjoylife (sosmed distancing yang pesimis
& negatif).

Akhirnya, selamat melayani & jadi berkat di saat krisis Covid-19. Berkat Tuhan & salam untuk keluarga yang kita sayangi.

Dr.Heri Setiawan, ST.,MT
Ketua ISKA DPC Kota Palembang Periode 2019-2023

Dunia Baru Pasca Wabah

Dunia terus berubah. Perubahan drastis dunia dipicu oleh peristiwa-peristiwa besar, yang mengubah cara pikir dan cara hidup manusia.  Pemikiran hebat Yunani Kuno runtuh ketika Kaisar Konstantinus yang Kristiani, bertahta di Roma. Sejak itu, agama Kristiani dijadikan agama negara dan sekolah kebijaksananaan Yunani ditutup. Bangkitlah arus kuat pemikiran abad pertengahan yang bercorak Kristiani. Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan reformasi Protestan pada abad 15-16, meruntuhkan arus pemikiran abad pertengahan dan menggantinya dengan pemikiran modern yang mengagungkan akal budi manusia. Perang dunia II telah memicu dihapuskannya penjajahan fisik diseluruh dunia, dst.  Wajah dunia terus menerus diperbaharui oleh peristiwa-peristiwa besar.

Wabah virus Covid 19 adalah peristiwa besar yang berdampak luas. Jika sebelum ini dunia selalu diubah oleh peristiwa-peristiwa besar yang dipicu ulah manusia, kini untuk pertama kalinya, dipicu oleh  virus Covid 19. Tiba-tiba saja, mahluk amat kecil ini telah menginfeksi nyaris seluruh dunia dalam waktu singkat. Covid 19 menyebabkan pandemi global dengan skala yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia sebelumnya.

 Masifnya penyebaran virus covid 19 secara cepat telah meruntuhkan kesombongan akal budi manusia yang telah diagungkan lima abad terakhir. Serangan wabah meruntuhkan kebanggaan atas kejayaan teknologi kesehatan, sistem ekonomi, sistem politik, dan sistem-sistem lainnya. Semua yang dianggap hebat, seakan berubah rapuh dalam waktu singkat. Dunia medis seakan pasrah mengandalkan “kebaikan” Covid 19, yang hanya fatal bagi kurang dari 10 % penderita, dan sembuh sendiri bagi bagian besar lainnya. Kecanggihan teknologi penyediaan alat ventilator, obat, vaksin, perlengkapan medis, dll, tertinggal jauh dibelakang kecepatan penyebaran wabah ini. Sistem politik dan sosial kedodoran dalam antisipasi, bahkan setelah korban banyak berjatuhan. Ekonomi terpuruk masif melebihi gelombang resesi yang pernah terjadi. Ini adalah peristiwa besar yang berpotensi mengubah hidup manusia dalam skala luas. Pengharapan akhir digantungkan pada kenyataan bahwa wabah ini pasti akan berakhir, mengingat mayoritas korbannya akan sembuh sendiri dan menjadi kebal. Harapan yang tidak lagi mengandalkan kemampuan akal budi manusia.

Apa yang akan terjadi pada dunia yang telah “dipermalukan” oleh mahluk yang amat kecil ini? Tentu banyak perubahan yang dapat dibayangkan akan terjadi. Banyak aspek kehidupan akan berubah menyesuaikan diri setelah krisis ini. Dunia medis akan lebih berfokus pada pengembangan penanganan penyakit-penyakit menular. Proses vaksin akan dipercepat, dst. Dunia kerja akan melihat “work from home” sebagai alternatif yang efisien sekaligus efektif. Demikian juga dengan dunia pendidikan, dengan sistem “online”. Ekonomi dan politik akan menyesuaikan diri supaya mampu mengantisipasi wabah berikutnya. Solidaritas masyarakat dunia dibangkitkan lewat bantuan China terhadap Italy, dst. Cara hidup akan berkembang  dengan tidak lagi  berfokus mengandalkan kecepatan, tetapi lebih pada efektifitas dan efisiensi. Hidup menjadi lebih waspada, sederhana, dan cerdas. Ajaran agama dituntut makin menyatu dengan kemanusiaan, dst.

Perubahan adalah keniscayaan. Fleksibilitas adalah kunci keberhasilan dalam perziarahan hidup. Setiap peristiwa, betapapun buruknya, selalu memiliki rahmat tersembunyi (blessing in disguise). Filsuf Jerman, Karl Jaspers, mengingatkan bahwa Kemahakuasaan Allah memungkinkanNya untuk mewahyukan kehendakNya lewat segala sesuatu. Bisa saja bencana ini merupakan sinyal dariNya untuk minta kita berubah. Jasper menggunakan istilah  “chiffer” untuk sinyal dari Allah. Allah juga telah menganugerahkan akal budi dan RohNya  yang tinggal dalam hati, pada tiap manusia. Manusia perlu menggunakan anugerah-anugerah itu untuk merefleksikan setiap peristiwa, demi proses kesempurnaan hidupnya. Kata St. Agustinus:  “Crede ut intelligas, intellige ut credas” (percayalah supaya makin mengetahui, upayakanlah pengetahuan supaya makin percaya). Badai pasti berlalu, namun siapkah kita menghadapi wajah baru dunia setelah ini? Saatnya merenungkan ini, ditengah karantina diri.

(Hendro Setiawan)

Talenta yang Tidak Bertumbuh

Kisah tentang J. Robert Oppenheimer dan Christopher Langan menghadirkan sebuah refleksi yang menarik tentang hidup manusia. Dua orang sama-sama cerdas, sama-sama memiliki kemampuan intelektual luar biasa, tetapi berjalan menuju akhir yang sangat berbeda.

Oppenheimer dikenang dunia sebagai ilmuwan besar yang memimpin proyek bom atom. Ia lahir dalam lingkungan yang mendukung pendidikan, bertumbuh dengan akses terhadap buku, relasi, universitas, dan kesempatan. Talenta yang dimilikinya menemukan tanah yang subur untuk berkembang.

Sebaliknya, Christopher Langan justru menjadi kisah tentang kecerdasan yang berjalan sendirian. IQ yang sangat tinggi ternyata tidak otomatis membawa seseorang menuju keberhasilan. Kemiskinan, keluarga yang tidak stabil, minimnya dukungan sosial, dan ketidakmampuan memahami sistem membuat potensinya tidak pernah sungguh bertumbuh.

Di sinilah kita belajar bahwa manusia tidak hidup hanya dengan talenta.

Sebagai orang beriman, kita sering kali terlalu mudah mengagumi “kepintaran”, seolah-olah kecerdasan adalah ukuran utama keberhasilan hidup. Padahal dalam terang iman Kristiani, manusia dipanggil bukan hanya untuk menjadi pandai, tetapi juga matang sebagai pribadi. Talenta tanpa karakter dapat kehilangan arah. Kecerdasan tanpa relasi bisa berubah menjadi kesepian. Dan kemampuan besar tanpa pendampingan bisa berakhir menjadi potensi yang terkubur.

Yesus sendiri dalam perumpamaan talenta mengingatkan bahwa anugerah harus dikembangkan, bukan disimpan. Namun pengembangan talenta tidak pernah terjadi sendirian. Dibutuhkan keluarga, guru, sahabat, komunitas, dan lingkungan yang membantu seseorang bertumbuh. Karena itu, keberhasilan seseorang sering kali bukan hanya hasil kerja pribadinya, tetapi juga buah dari banyak tangan yang menopang hidupnya.

Kisah Christopher Langan juga menjadi cermin sosial bagi kita. Masih banyak anak-anak berbakat yang lahir di tempat-tempat sederhana, tetapi kehilangan kesempatan karena kemiskinan, kurangnya pendidikan, atau tidak adanya pendampingan. Gereja dan masyarakat dipanggil untuk hadir bagi mereka. Sebab talenta adalah karunia Allah yang seharusnya tidak mati karena keadaan.

Namun refleksi ini juga menjadi teguran bagi generasi muda. Tidak cukup hanya berkata, “Saya punya bakat.” Dunia membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademik. Kerendahan hati, kemampuan bekerja sama, keterampilan komunikasi, daya juang, kejujuran, dan ketekunan justru sering menjadi penentu keberhasilan seseorang dalam kehidupan nyata.

Banyak orang gagal bukan karena tidak pintar, tetapi karena berhenti belajar menghadapi hidup.

Pada akhirnya, talenta terbesar manusia mungkin bukan IQ yang tinggi, melainkan kesediaan untuk terus bertumbuh. Sebab Tuhan tidak hanya melihat seberapa besar kemampuan kita, tetapi juga bagaimana kita mengolah dan mempersembahkan kemampuan itu untuk kehidupan sesama.

Dan mungkin benar, kemiskinan bukanlah akhir dari segalanya. Yang paling berbahaya justru ketika seseorang kehilangan semangat untuk berkembang, kehilangan keberanian untuk berjuang, dan kehilangan kejujuran dalam hidupnya. *** (YH)

Menulis di Bayangan

Jack sedang berada di puncak kepercayaan dirinya. Semua pekerjaan terasa mudah. Email selesai dalam hitungan menit, presentasi tampak rapi dan meyakinkan, laporan bulanan beres tanpa perlu begadang. Rekannya, Rose, pun mengalami hal yang sama. Mereka seperti dua pegawai paling cemerlang di kantor cabang perusahaan itu.

Tak ada yang tahu bahwa sebagian besar pekerjaan mereka sebenarnya dikerjakan oleh sesuatu yang tak terlihat: kecerdasan buatan.

Dengan bantuan AI, semuanya menjadi cepat. Terlalu cepat. Bahkan mereka mulai merasa tidak lagi membutuhkan tim data analyst. “Semua bisa kami kerjakan sendiri,” begitu kira-kira keyakinan mereka. Maka satu per satu analis data diberhentikan. Kantor tampak lebih ringkas, lebih modern, lebih efisien.

Sampai akhirnya tiba hari evaluasi tahunan.

Di depan jajaran direksi, Jack berdiri penuh percaya diri membawakan presentasi. Grafik naik, tabel terlihat meyakinkan, angka-angka tampak sempurna. Namun petaka datang lewat pertanyaan sederhana.

“Data ini berasal dari mana?”
“Sudah diverifikasi?”
“Kenapa penjualan naik tetapi laba turun?”
“Mengapa stok gudang tidak sesuai dengan laporan gerai?”

Jack terdiam.

Presentasi yang tampak canggih itu mendadak kosong. Ia tidak benar-benar memahami data yang dipaparkannya. Semua sudah diringkas, diolah, bahkan dianalisis oleh mesin. Jack hanya menerima hasil jadi. Ia terlihat pintar, tetapi tidak sungguh memahami apa yang ia kerjakan.

Di situlah kisah ini terasa dekat dengan kehidupan kita hari ini.

Sedikit demi sedikit manusia mulai memindahkan ingatannya ke layar. Kita tak lagi menghafal, sebab mesin pencari selalu tersedia. Kita tak lagi berpikir panjang, sebab AI dapat menyusun jawaban dalam hitungan detik. Bahkan kadang kita lebih percaya hasil AI daripada pengetahuan, pengalaman, atau akal sehat kita sendiri.

Padahal teknologi seharusnya membantu manusia berpikir, bukan menggantikannya.

Ada ironi yang diam-diam tumbuh di zaman ini. Semakin mudah memperoleh jawaban, semakin malas manusia memeriksa kebenaran. Semakin cepat pekerjaan selesai, semakin dangkal pemahaman yang dimiliki. Kita mulai kehilangan kemampuan paling penting: berpikir kritis.

Kisah Jack sebenarnya bukan tentang kegagalan presentasi. Itu adalah cermin tentang manusia modern yang terlalu nyaman menyerahkan proses berpikir kepada mesin. Ketika semua bergantung pada AI, manusia bisa terlihat cerdas tanpa benar-benar bertumbuh menjadi cerdas.

Dan mungkin inilah makna paling dalam dari “menulis bayangan.” Kita mengetik begitu banyak hal, membagikan begitu banyak pendapat, menyusun begitu banyak kata, tetapi sesaat kemudian kita sendiri lupa makna dari apa yang kita tulis. Karena pikiran itu tidak pernah benar-benar lahir dari proses perenungan, melainkan hanya pantulan dari mesin.

Teknologi akan terus berkembang. AI akan semakin hebat. Namun manusia tetap membutuhkan hati yang jernih, nalar yang kritis, dan keberanian untuk memeriksa kembali setiap kebenaran.

Sebab pada akhirnya, masa depan tidak dimenangkan oleh mereka yang paling cepat menyalin jawaban, melainkan oleh mereka yang masih mau berpikir sebelum percaya. *** (YH)

Selamat Hari Ulang Tahun ke-68 Ikatan Sarjana Katolik Indonesia.

Selamat Hari Ulang Tahun ke-68 Ikatan Sarjana Katolik Indonesia.

ENAM puluh delapan tahun perjalanan bukan sekadar penanda usia, melainkan jejak panjang pengabdian, pemikiran, dan karya nyata bagi Gereja dan bangsa. Dalam setiap zaman, ISKA dipanggil bukan hanya untuk hadir, tetapi juga menjadi terang yang menyalakan harapan, menghadirkan gagasan, serta membangun peradaban yang lebih manusiawi dan berkeadaban.

Semoga momentum ulang tahun ini semakin memperbarui semangat seluruh anggota ISKA untuk terus bertumbuh dalam iman, unggul dalam intelektualitas, bijaksana dalam pelayanan, dan berani mengambil bagian dalam menjawab tantangan zaman. Kiranya ISKA tetap menjadi rumah karya bagi para sarjana Katolik untuk mengabdi dengan hati, berkarya dengan integritas, dan melayani dengan kasih demi kejayaan Indonesia serta kemuliaan Gereja.***

Ketidaksetaraan: Hambatan Utama Riset dan Pengobatan Kanker

Akademi Sains Kepausan menyelenggarakan konferensi dua hari yang membahas ketidaksetaraan global dalam riset dan pencegahan kanker. Pertemuan tersebut dihadiri lebih dari 40 peneliti dan dokter kanker terkemuka dunia.

Mereka berkumpul di Casina Pio IV, Vatikan dalam suatu konferensi yang berjudul “Strategi Mengurangi Ketidaksetaraan dalam Perawatan dan Pencegahan Kanker”.

Acara tersebut merupakan konferensi akademik global pertama yang diselenggarakan oleh Akademi Sains Kepausan bekerja sama dengan European Academy of Cancer Sciences dan didukung Kedutaan Besar Swedia untuk Tahta Suci.

Menurut Prof. Joachim Von Braun, presiden Akademi Sains Kepausan, konferensi tersebut terinspirasi dari pesan Paus Fransiskus untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-30 yang dirayakan pada tahun 2022, di mana Paus Fransiskus menyampaikan pesan: “Mari kita berterima kasih kepada Tuhan atas kemajuan Ilmu Kedokteran yang telah dicapai dewasa ini.”

Prof. Von Braun mencatat bahwa kemajuan besar telah dibuat dalam beberapa tahun terakhir dalam penelitian dan terapi kanker. Namun, tambahnya, manfaat sains yang lebih baik tidak terdistribusi secara merata di seluruh negara, bahkan di dalam negara sendiri.

Oleh karena itu, ketidaksetaraan dapat menyebabkan masalah nyata mendiagnosis dan mengobati kanker, karena kemajuan ilmiah gagal menyaring negara-negara berpenghasilan miskin dan menengah, dan kadang-kadang bahkan keluar dari kota-kota besar dan pusat-pusat perawatan di negara kaya.

“Jika pasien tidak memiliki akses ke penelitian yang lebih baik, maka itu menimbulkan masalah bagi orang dan masyarakat, karena mereka yang paling parah terkena dampaknya tinggal di negara berkembang,” kata Prof. Michael Baumann, CEO Pusat Penelitian Kanker Jerman.

“Hasil dari kanker, termasuk deteksi dini dan bertahan hidup, sangat bervariasi, terutama antar negara yang berbeda dan bahkan di dalam negara,” imbuh Prof. Baumann.

Foto: Vatican News

Menyeimbangkan Keadilan dan Hak Kekayaan Intelektual

Konferensi tersebut berusaha untuk mengambil langkah pertama untuk mengatasi distribusi kemajuan ilmiah yang tidak merata dengan mempromosikan transfer data dan keahlian ke negara berpenghasilan rendah dan menengah dan dengan memberi saran kepada pemerintah mengenai kebijakan perawatan kesehatan.

“Jika sumber daya kita terdistribusi dengan baik, maka kita dapat memenuhi kebutuhan kesehatan anak-anak yang membutuhkan vaksin serta penderita kanker,” kata Prof. Chandy. “Dekade terakhir telah melihat kemajuan besar dalam terapi kanker, dan membuat diagnosis yang tepat waktu dan tepat sangat penting dalam pengobatan kanker.”

Padahal, tambah Prof. Chandy, pemerintah harus mempertimbangkan perlindungan hak kekayaan intelektual dengan keadilan bagi orang-orang di negara lain yang telah didiagnosis menderita kanker.

Kanker Bukan Lagi Hukuman Mati

Salah satu metode yang terbukti memberikan pengobatan yang lebih baik dan riset yang lebih efektif adalah dengan menciptakan “Pusat Kanker Komprehensif”, di mana riset digabungkan dengan pengobatan, pendidikan, dan keterjangkauannya.

Pasien yang dirawat di fasilitas ini 10-15 persen lebih mungkin bertahan dari kanker, kata Prof. Baumann. Namun, distribusi geografis pusat-pusat kanker sangat bervariasi antar negara; beberapa daerah memiliki banyak fasilitas semacam itu, tetapi sebaliknya tempat-tempat lain tidak memilikinya sama sekali.

Prof. Douglas Lowy, direktur interim Institut Kanker Nasional AS, menyoroti statistik yang menjanjikan dalam terapi kanker. Tingkat kelangsungan hidup kanker selama lima tahun telah meningkat dari sekitar 50 persen pada pertengahan 1970-an menjadi sekitar 68 persen saat ini.

Namun, Prof. Lowy menambahkan, “kanker itu mengerikan!” Terlalu banyak orang meninggal karena kanker setiap tahun, sekitar 600.000 di Amerika Serikat, dan proyeksi global meramalkan bahwa sebagian besar diagnosis kanker akan terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah dalam satu dekade.

“Ketimpangan dan kurangnya akses ke layanan kesehatan merupakan masalah penting di Amerika Serikat dan secara global, serta berdampak negatif besar pada perkembangan kanker dan kematian,” kata Prof. Lowy.

Dibangun di Atas Sejarah Gereja yang Membantu Orang

Konferensi tersebut juga berupaya menciptakan jaringan di antara para peneliti kanker dan mencari cara untuk menyebarluaskan kemajuan ilmiah secara lebih adil.

Pendidikan dan pelatihan ilmuwan dan dokter muda dapat memainkan peran penting dalam menyebarkan kemajuan ke negara-negara berkembang, misalnya, kerjasama antar lembaga.

Ditanya tentang alasan diadakannya konferensi di Vatikan, Prof. Lowy menyoroti sifat pribadi kanker: “Kanker adalah saudara laki-laki, perempuan, ibu, ayah, atau anak seseorang, bukan hanya angka.”

“Dalam konteks yang lebih luas,” menurut Prof. Lowy, “Gereja Katolik memiliki sejarah panjang dan kuat dalam membantu orang di seluruh dunia.”

Herman Endrayanto (Sumber: Devin Watkins, Vatican News)

Pertama Kali dalam Sejarah: Paus Fransiskus akan Mereformasi Universitas dan Institut Kepausan

Foto: Vatican News

Untuk pertama kalinya, Paus Fransiskus akan mereformasi universitas dan institut kepausan di Vatikan. Dihadapan perwakilan 22 lembaga akademik kepausan dalam audiensi pada 25 Februari 2023, yang terdiri dari mahasiswa dan profesor yang menyesaki Aula Paulus VI, Paus Fransiskus mengatakan, “Ada kebutuhan mendesak untuk memulai proses menuju sinergi yang efektif, stabil, dan organik antara lembaga akademik”.

Perlu diketahui bahwa Vatikan memiliki 22 institusi akademik yang terbagi atas 4 (empat) kategori yaitu 7 universitas, 4 fakultas, 2 athenaeum, dan 9 institut. Lembaga-lembaga akademik tersebut didirikan selama kurun tahun 1551 hingga 1981 dan 15 lembaga dipercayakan kepada lembaga Gereja. Misalnya, para Jesuit mengelola Universitas Gregoriana dan para Dominikan mengelola Universitas Angelicum.

Keberadaan institusi akademik kepausan tersebut dipantau oleh Badan Evaluasi dan Promosi Kualitas Universitas dan Fakultas Gerejawi Takhta Suci, sebuah badan yang dibentuk Paus Benediktus XVI pada tahun 2007.

Paus Fransiskus mengungkap fakta bahwa banyak pusat studi di Roma yang telah berkembang selama berabad-abad kini berisiko “membuang-buang energi yang berharga”. Situasi ini, menurut pandangan Paus Fransiskus, dapat mengancam untuk dan menghambat transmisi kegembiraan dalam belajar Injili.

Dihadapkan pada situasi tersebut, Paus Fransiskus menekankan terjadinya pengurangan sumber daya ekonomi dan manusia yang diderita lembaga-lembaga tersebut. Paus juga menekankan bagaimana pandemi Covid-19 telah memengaruhi lembaga pendidikan yang sebagian besar memiliki mahasiswa internasional.

Paus mengajak universitas dan institut kepausan untuk menghadapi kesulitan tersebut bukan dengan cara bertahan, tetapi dengan menganggapnya sebagai dorongan baru menuju masa depan yang lebih baik.

Paus memperingatkan semua yang hadir agar tidak terlalu mementingkan diri sendiri, tetapi juga mendorong mereka untuk meluncurkan reformasi dengan mempertimbangkan keberanian dan, jika perlu, perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Mari kita tidak berdebat di antara kita sendiri untuk mengambil satu siswa atau satu jam lebih,” kata Paus.

Dalam kesempatan tersebut, Paus Fransiskus menunjuk Prefek Diskateri Kebudayaan dan Pendidikan yaitu Kardinal José Tolentino de Mendonça, yang berasal dari Portugal, akan menjadi arsitek reformasi universitas dan institut kepausan tersebut.

Paus Fransiskus akan memfokuskan reformasinya pada empat tujuan: transdisipliner, penciptaan jejaring untuk menemukan jawaban konkret atas masalah kemanusiaan, kembali ke sumber kerygmatis ajaran Kristen, dan pengembangan pengalaman komunitas yang diarahkan pada “kegembiraan kebenaran.”

Paus Fransiskus mengakhiri pidatonya dengan memberikan gambaran tentang Kristus sebagai dirigen paduan suara, yang tangannya mengarahkan seluruh umat manusia dan pada saat yang sama setiap individu. Berdasarkan gambaran itu, Paus Fransiskus mendorong lembaga akademik kepausan untuk tidak bertindak sebagai solois tetapi bernyanyi sebagai paduan suara dengan memupuk harmoni.

Paus Fransiskus mencatat bahwa melalui dedikasi mereka untuk belajar, baik selama beberapa tahun atau seumur hidup, para anggota di institut kepausan telah membentuk paduan suara. Mengutip pendapat Santo John Henry Newman, bahwa paduan suara ini adalah universitas dan di situlah “pengetahuan dan perspektif yang berbeda mengekspresikan diri mereka dalam harmoni, melengkapi, mengoreksi, dan menyeimbangkan satu sama lain”.

GAMBARAN INSTITUT AKADEMIK KEPAUSAN

Dalam pertemuan tersebut, para rektor institut kepausan memperoleh kesempatan menyampaikan laporan bersama pertama mereka, yang mencakup tahun akademik 2021/2022. Evaluasi tersebut dilakukan sehubungan dengan peringatan 5 (lima) tahun Konstitusi Apostolik Paus Fransiskus, Veritatis Gaudium (2018), di mana Paus Fransiskus telah mereformasi institusi akademik kepausan. Laporan para rektor institut kepausan tersebut dapat diunduh di bawah ini.

Pada tahun akademik 2021/2022 terdapat 15.634 siswa belajar di Roma. Mereka mewakili 8% mahasiswa yang berada di Kota Abadi, termasuk yang belajar di universitas dan perguruan tinggi negeri dan swasta. Ada 2.056 profesor yang mengajar di universitas-universitas ini, artinya ada rasio profesor-mahasiswa yang sangat tinggi: rata-rata sekitar satu profesor untuk setiap 6 (enam) mahasiswa. Institusi tersebut memiliki 459 karyawan yang bekerja melayani bagian administrasi.

Lembaga-lembaga tersebut juga sangat bercorak internasional. Gambarannya sebagai berikut.

Rata-rata, ada satu siswa Italia untuk setiap delapan siswa Nonitalia, yang terakhir berasal dari 124 negara di seluruh dunia dan dari semua benua. Institusi akademik kepausan juga berafiliasi dengan 221 institusi lain di seantero dunia.

Disiplin akademik yang paling populer dipelajari yaitu Teologi (22,1% siswa), yang ditawarkan di 15 dari 22 institusi kepausan, berikutnya Filsafat (13,2%) dan Hukum Gereja (7,4%). Lembaga-lembaga tersebut juga menawarkan kursus di hampir 30 mata kuliah yang berbeda. Selama tahun akademik 2021/2022 secara keseluruhan institut akademik kepausan telah memberikan 3.085 gelar.

Herman Sunu Endrayanto (Sumber: Francesca Merlo, Vatican News dan Camille Dalmas, Aleteia)

Menulis Sebagai Bagian Doa

Menulis Sebagai Bagian Doa

Kemarin siang, tiba-tiba saja sebuah chat dari saudaraku Ignas Waning masuk. Ia memintaku menulis artikel untuk sebuah web, tentang pengalamanku menulis. Chat itu sejenak membuatku terperangah. Ternyata aku selama ini tidak menyadari diri sebagai seorang penulis. Aku ternyata hanya menghayati identitasku sebagai: umat Allah, suami, ayah, opa, pengusaha, rotarian (anggota rotary club), atau pegiat gereja. Tidak terlintas bahwa aku adalah penulis. Kemudian aku mencoba menarik memori yang terkait. Enam buku memang sudah kutulis, semuanya diterbitkan oleh Kanisius. Tiga buku merupakan buku filsafat, dua buku tentang gerejawi (mendapat imprimatur dan nihil obstaat), dan satu buku tentang pendidikan. Enam jurnal penelitian ilmiah telah dipublish. Dan beberapa artikel telah dimuat di surat kabar, majalah cetak, dan media online. Chat saudara Ignas membuatku mulai menelusuri sejarah penulisanku. Padahal tidak pernah bercita-cita menjadi penulis.

Keinginan untuk menulis pertama kali muncul, ketika aku sedang menyelesaikan disertasi bidang filsafat yang membahas seputar “Hirarki Kebutuhan Abraham Maslow”. Penelitianku dalam disertasi itu menunjukkan bahwa selain dampak positif, ternyata ada dampak negatif serius pada konsep hirarki kebutuhan Maslow. Dampak negatif itu berupa kecenderungan untuk egois, dan menganggap pemenuhan kebutuhan yang lengkap sebagai satu-satunya jalan mencapai kebahagiaan. Kecenderungan-kecenderungan ini menyesatkan. Sejak itu aku merasa gelisah, banyak orang tidak sadar tentang dampak negatif konsep ini, termasuk aku sendiri sebelumnya. Kegelisahan itu terus muncul dan mengganggu pikiranku setiap saat. Itulah yang mendorongku menulis buku untuk memberi masukan pada masyarakat luas. Buku berjudul “Manusia Utuh” diterbitkan Kanisius tahun 2014, isinya membahas dampak-dampak konsep Maslow itu. Terbitnya buku itu, membuat kegelisahan tentang dampak negatif konsep hirarki kebutuhan lenyap. Walau aku sadar bahwa dampak buku itu terbatas, tetapi lega karena dalam keterbatasanku aku telah ambil bagian dalam mengantisipasi yang buruk.

Salah satu karya tulis (buku) yang terbaru dari Pak Hendro.

Pengalaman aktif dalam kegiatan menggereja, memunculkan kegelisahan yang lain tentang situasi awam Katolik yang membingungkan. Untuk mengatasi kegelisahan itu, aku melakukan penelitian kepustakaan. Hasilnya, Kanisius menerbitkan “Awam Mau Kemana?” tahun 2016 lengkap dengan imprimatur dan nihil obstaat. Keprihatinan yang menggelisahkan atas berkurangnya praktik keutamaan kerendahan hati ditengah kehidupan masa ini, memicu lahirnya buku “Mungkinkah Bumi Tanpa Humus” (Kanisius, 2017). Pengalaman hidup ternyata terus menerus menyuguhkan keprihatinan dan kegelisahan baru. Perjumpaanku dengan para lansia yang bingung dan seakan kehilangan makna hidupnya, membuatku kembali melakukan studi dan menulis “Bergulat Dengan Usia”. Buku ini diterbitkan Kanisius tahun 2021. Buku “Menata Nalar Memahami Kebenaran” yang diterbitkan Kanisius tahun 2022, muncul atas kegelisahan akibat banjir informasi dunia maya masa ini. Banjir informasi dunia maya berpotensi menyesatkan orang yang belum mampu memilahnya. Kegelisahan atas fenomena gerak awam Katolik yang cenderung terkonsentrasi di seputar altar dan kurang bergerak keluar untuk menjadi “garam” dan “terang” dunia, menginisiasi terbitnya “Pergilah, Kita Diutus” (Kanisius, 2022) dengan imprimatur dan nihil obstaat. Hal yang sama juga, dengan penulisan-penulisan berupa jurnal penelitian dan artikel, setelah kurenungkan, semuanya lahir dari kegelisahan yang ada di hati. Tidak ada motivasi lain yang dominan dan mendorongku untuk menulis, selain kegelisahan. Dan kegelisahan itu lenyap setelah aku berupaya mempersembahkan tulisan yang terbatas itu.

Chat saudara Ignas membantuku memaknai semua ini. Ternyata tulisan-tulisanku lahir semata untuk menjawab kegelisahan yang muncul di dalam hati. Kegelisahan itu selalu tentang fenomena yang tidak pada tempatnya, atau butuh dibaharui. Kemudian aku berupaya menjawab kegelisahan, dengan studi tentang penyebab dan cara mengantisipasinya. Tentunya semua ini berjalan dalam keterbatasanku. Apabila kegelisahan itu berasal dari seruan Allah, yang kuyakini selalu tinggal dalam hatiku. Dan menulis adalah caraku menjawab seruanNya. Maka menulis adalah bagian dari komunikasi batinku dengan Tuhan, bagian dari doa. Terimakasih untuk saudaraku Ignas Waning yang telah membantuku memaknai hidup lebih luas.** (Dr. Hendro Setiawan, pengusaha dan penulis serta penasihat DPC ISKA Palembang)

Merosotnya Sekolah Katolik: Berkaca dari Amerika Serikat

Para siswa di St. Francis de Sales School di Las Vegas sedang berdoa | Foto: Las Vegas Diocese

Menurunnya jumlah siswa di sekolah-sekolah Katolik, baik yang dikelola lembaga pendidikan Katolik milik keuskupan, ordo/konggregasi, maupun awam Katolik, sudah menjadi perhatian dan perbincangan sejak tahun awal tahun 2000-an. Jadi masalah ini sudah berlangsung lama.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah Katolik di Indonesia, melainkan juga di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, sejak tahun 1970-an penurunan jumlah siswa di sekolah Katolik telah terjadi.

Jurnalis Patrick McCloskey dalam bukunya The Street Stops Here (2008) mendokumentasikan keberhasilan para anak muda kulit hitam pinggiran di Rice High School di Harlem. Sekolah ini berdiri sejak tahun 1938. Selama bertahun-tahun sekolah yang dikelola para bruder Kristen (Congregatio Fratrum Christianorum disingkat CFC) mampu mengatasi kesenjangan sosial dalam pencapaian pendidikan di mana seratus persen lulusannya diterima di perguruan tinggi. Ironisnya setelah tiga tahun buku itu diterbitkan, sekolah ditutup karena kekurangan finansial.

Secara keseluruhan, sekolah-sekolah Katolik Amerika tutup dengan cepat. Pada puncaknya pada pertengahan 1960-an, lebih dari 13.000 sekolah dasar dan menengah Katolik mendidik 12 persen anak usia sekolah di Amerika Serikat. Tetapi pada tahun 2012, kurang dari 7.000 sekolah Katolik mendidik dua juta atau lima persen dari anak usia sekolah di Amerika Serikat.

Di masa depan kemungkinan akan membawa kontraksi lebih lanjut. Karena sekolah Katolik memiliki sejarah panjang melayani minoritas dan orang miskin, merosotnya sekolah Katolik mengurangi kemampuan Gereja Katolik AS berkontribusi untuk memajukan keadilan sosial dan kemungkinan akan mengurangi kesetaraan kesempatan memperoleh  pendidikan.

Permasalahan penurunan siswa di sekolah Katolik di Amerika Serikat diangkat oleh Carol Ann MacGregor, pengajar Loyola University, New Orleans, dalam disertasi doktoralnya di bidang sosiologi yang berjudul School’s Out Forever: The Decline of Catholic Education in the United States, di Princeton University tahun 2012.

MacGregor mengupas dua pengaruh sekolah Katolik pada tahun 1970-an dan tahun 1980-an di mana para akademisi mendokumentasikan dan mendiskusikan pengaurh pendidikan yang diperoleh anak-anak yang bersekolah di sekolah Katolik termasuk prestasi akademik yang baik, pencapaian yang lebih baik pada tes standar, dan tingkat kelulusan yang lebih tinggi yang di perguruan tinggi.

Pertama, para akademisi berpendapat bahwa ikatan sosial yang erat antara guru dan orang tua memungkinkan sekolah Katolik mengontrol perilaku buruk dan memperkuat karakter positif dalam diri anak-anak. Namun, menurut MacGregor, bukti ini kurang konklusif karena, tidak seperti sekolah umum, sekolah Katolik dapat mengeluarkan atau menolak menerima siswa yang kurang berprestasi secara akademis atau menunjukkan masalah perilaku.

Kedua, pengaruh sekolah Katolik yang terdokumentasi ternyata paling besar terjadi di siswa perkotaan dan minoritas. Sekolah-sekolah Katolik menampung banyak anak dari kalangan minoritas dan mampu mengangkat mereka menjadi lebih berpretasi secara akedemik maupun nonakademik.

Di berbagai daerah perkotaan, populasi hispanik mengalami peningkatan. Keberadaan pendidikan Katolik dapat menjadi sangat penting karena populasi Hispanik terus meningkat. Kebanyakan orang Hispanik setidaknya secara nominal merupakan orang Katolik, dan penelitian telah mendokumentasikan bahwa anak-anak mereka sering mengalami kegagalan secara akademis, tulis MacGregor.

Apabila sekolah Katolik di Amerika Serikat memberikan pengaruh positif, terutama bagi keluarga kelas bawah, mengapa sekolah Katolik justru mengalami penurunan yang begitu tajam. MacGregor dalam disertasinya menulis lima faktor penyebabnya.

Pertama, merosotnya jumlah suster. Secara tradisional, ordo atau konggregasi biarawati menyediakan sebagian besar staf dan guru di sekolah Katolik. Pada puncaknya, sekitar tahun 1970an, lebih dari 100.000 suster bekerja di sekolah Katolik, tetapi saat ini hanya ada sekitar 6.500 yang masih bekerja, kurang dari satu suster per sekolah Katolik. Kekurangan suster di sekolah Katolik diganti tenaga awam yang membutuhkan gaji dan tunjangan bulanan. Hal ini menyebabkan biaya operasional sekolah menjadi membengkak.

Kedua, biaya pendidikan yang semakin mahal. Pada tahun 1970an hampir tiga perempat sekolah Katolik mengenakan biaya pendidikan kurang dari $100 (setara dengan kira-kira $ 300 sekarang). Pada tahun 2010 rata-rata biaya sekolah sudah mencapai sekitar $ 4,000 untuk sekolah dasar Katolik dan $ 8,000 untuk sekolah menengah Katolik. Termasuk tambahan, biaya per siswa di tingkat dasar sudah meroket dari sekitar $ 1,500 menjadi sekitar $ 5,500.

Tidak mengherankan, banyak orang tua tidak mampu membayar biaya yang semakin mahal tersebut dan lebih sedikit yang memilih untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah Katolik.

Ketiga, mengendurnya komitmen dari kalangan Gereja Katolik. MacGregor menulis bahwa pluralisme agama adalah salah satu ciri ekologi agama yang lebih luas yang mungkin memiliki konsekuensi khusus bagi kemunduran sekolah Katolik di Amerika Serikat. Dalam sejarah Amerika Serikat, pada abad ke-18, umat Katolik menghadapi prasangka yang kuat di Amerika Serikat oleh komunitas agama lain maupun komunitas-komunitas nonreligius.

Secara berlahan-lahan, prasangka itu hilang. Beberapa cendekiawan melihat bahwa, karena umat Katolik Amerika tidak lagi menghadapi prasangka yang kuat, Gereja Katolik ingin menarik diri dari pendidikan dan mengerahkan sumber daya yang terbatas untuk pengajaran Katolisisme yang ketat. Hal inilah yang menyebabkan sekolah-sekolah Katolik mengalami kemunduran.

Keempat, krisis pelecahan seksual. Meningkatnya kasus pelecehan seksual di berbagai keuskupan di Amerika Serikat menyebabkan subsidi untuk sekolah Katolik menjadi diperas. MacGregor memaparkan data yang menunjukkan bahwa keuskupan dengan jumlah insiden pelecehan yang besar memiliki lebih banyak penutupan sekolah Katolik dari tahun 2000 hingga tahun 2010.

Kelima, kurang fokus mendukung mobilitas ke atas. Pendidikan menjadi sarana mobilitas vertikal, baik dari sisi ekonomi maupun sosial-budaya. Akan tetapi hal ini kurang terjadi pada sekolah Katolik di Amerika Serikat.

Beberapa akademisi yang mengkritisi masalah ini menyarankan Gereja Katolik dapat berpaling dari memberikan dukungan kepada imigran Latino untuk asimilasi dan mobilitas ke atas kepada umat Katolik Irlandia dan Italia.

McGregor dalam disertasinya mencontohkan Gugus Tugas Notre Dame tentang Partisipasi Keluarga dan Anak-anak Latino (The Notre Dame Task Force on the Participation of Latino Children and Families in Catholic Schools) yang pada tahun 2009 menemukan bahwa keuskupan dengan jumlah kursi kelas kosong terbesar terletak di sekitar kota dengan populasi Hispanik terbesar. Selain itu, sejak tahun 1990, sekolah-sekolah Katolik telah melayani lebih sedikit siswa Afrika-Amerika dan lebih banyak lagi yang tutup di wilayah kulit hitam.

Menghadapi persoalan-persoalan di atas, MacGregor mengingatkan bahwa semua orang Amerika yang peduli dengan pendidikan harus menyadari bahwa hilangnya sekolah Katolik membuat banyak orang tua dan masyarakat memiliki lebih sedikit pilihan. Penutupan sekolah umum yang berkinerja buruk di daerah-daerah sulit terkadang menjadi peluang untuk meningkatkan prestasi akademis siswa di tempat lain.

Berbeda halnya dengan sekolah-sekolah Katolik, tulis MacGregor, mereka biasanya telah melakukan tugas yang mulia dalam upayanya meningkatkan prestasi siswa, terutama bagi kaum minoritas perkotaan, sehingga apabila sekolah-sekolah Katolik ditutup, penutupan itu akan merugikan keluarga dan lingkungan sekitar. Seringkali, sekolah umum yang berdekatan harus berjuang untuk mendidik anak-anak lainnya yang juga terpinggirkan dan juga mengalami kekurangan dana.

MacGregor mengusulkan dua hal untuk memperkuat sekolah Katolik.

Pertama, membuat sekolah Katolik lebih terjangkau. Di sini peran donatur dan para pendukung sekolah Katolik dapat bekerja untuk menciptakan model keuangan yang memungkinkan keluarga-keluarga mengirimkan anak-anaknya ke sekolah Katolik bahkan jika mereka tidak mampu membayar uang sekolahnya sekalipun. MacGregor mencontohkan jaringan sekolah Cristo Rey, sekolah milik para Jesuit, yang menggunakan jaringan organisasi bisnis dan nirlaba untuk membantu menutupi biaya sekolah siswa yang kurang mampu.

Kedua, voucher umum yang digunakan untuk pendidikan. Inisiatif voucher ini memang kontroversial dan hanya diterapkan di beberapa keuskupan. Namun menurut MacGregor, penelitian tentang penggunaan voucher ini menunjukkan bahwa orang tua akan menggunakan voucher tersebut di sekolah Katolik yang relatif murah daripada membayar biaya yang lebih mahal di sekolah swasta lainnya.

Herman Endrayanto

Obrolan dan Prestasi

Ngobrol santai di taman dalam halaman SMA Xaverius 1 Palembang (Sabtu, 12 Maret 2022), Pak Yoseph, Pak Herman dan Pak Ignas.

OBROLAN tidak harus mengangkat topik yang berat dan ilmiah. Obrolan santai sebaiknya tidak luput dari perhatian dan pertimbangkan kita. Obrolan santai sebaiknya terus dilanjutkan.

Obrolan santai, Sabtu (12 Maret 2022) mengetengahkan banyak topik yang terlintas di kepala. Obrolan santai di halaman dalam SMA Xaverius 1 Palembang mengutarakan banyak hal: profesionalitas, kinerja, kreativitas, inisiatif, transformasi, transparansi, dan sebagainya.

Dalam sharingnya salah satu topik yang disampaikan oleh Bpk Yoseph Handoko, berkaitan dengan tugas profesionalnya tentang penting dan perlunya prestasi. Tunjukan prestasi dalam tugas keseharian kita agar kita tetap eksis.

Agar prestasi tetap eksis dalam bidang usaha dan karya apapun, maka perlu usaha yang serius untuk terus menerus belajar. Media belajar berbasis internet sangat terbuka lebar: gratis atau berbayar.

Mari, kita semua tetap diundang dalam pertemuan atau rapat-rapat yang akan datang. Kondisi endemi ini memotivasi kembali kita dalam pertemuan tatap muka. ISKA DPC Palembang tetap eksis. ** (Ignas)  

Quo Vadis ISKA Palembang

Dr Hendro Setiawan (di podium), salah satu pembedah buku “Korupsi”, 3 tahun silam di Palembang

Oleh: Dr Hendro Setiawan

TULISAN ini semata dalam rangka menjawab permintaan sahabat terkasihku, Bpk. Ignas Waning. Peran, keberadaan, dan kontribusi lembaga intelektual Katolik ditengah situasi Gereja dan masyarakat dewasa ini, sudah menjadi kebutuhan yang mendesak. Rasanya tidak ada lagi pihak yang meragukan ini. Dunia intelektual adalah lahan yang perlu digarami, mengingat produk-produk intelektual kuat mempengaruhi cara hidup manusia. Nilai-nilai agama perlu dihadirkan dalam proses-proses intelektualitas. Ini tentu juga menjadi harapan atas kontribusi lembaga seperti ISKA Palembang.

Permasalahan klasik suatu organisasi, umumnya terletak pada manajemen dan kepemimpinannya. Masalah kebanyakan muncul dari dalam, bukan dari luar. Organisasi kebanyakan busuk dari dalam, bukan dari luar. Yang baik bahkan mampu bertumbuh ditengah badai tekanan luar. Karena itu perlu dibahas beberapa hal terkait:

Kepemimpinan

Kepemimpinan yang baik utamanya nampak dalam komitmen menegakkan visi dan nilai-nilai organisasi. Tanpa visi, organisasi seakan berjalan tanpa arah, sesuka pemimpin, atau arahnya hanya disesuaikan kesepakatan anggota-anggotanya belaka. Padahal setiap organisasi dibetuk dengan visi tertentu yang dituangkan dalam AD/ART/Statuta, dll. Nilai-nilai organisasi Katolik mengacu pada nilai-nilai katolisitas.

Perencanaan

Perencanaan adalah sarana untuk menjabarkan visi pada tindakan konkrit sesuai dengan waktu, situasi, dll.

Organisasi

Organisasi diperlukan untuk “menggerakkan”, “memotivasi”, “mengarahkan”, dll, semua anggota dan stake holder dalam rangka mencapai apa yang direncanakannya. Ini adalah tantangan utama setiap lembaga sosial, yang tidak punya ikatan yang untuk memaksa gerak yang lain. Semua yang terlibat adalah relawan yang tidak dapat diperintah begitu saja. Dengan demikian kemampuan kepemimpinan dan organisasi untuk “merangkul”, “memotivasi”, dll, banyak anggota dan stake holder yang beragam menjadi tuntutan utama. Tujuan hanya dapat dicapai dengan talenta yang beragam. Kegagalan dari hal ini membuat organisasi hanya berjalan dengan type anggota yang “seragam” (punya pekerjaan sama, hobi sama, dll). Keseragaman membuat sulit bergerak. Padahal kekuatan organisasi sosial terletak pada keberagamannya. Efektifitas kepemimpinan terletak pada kemampuan merangkul yang lebih luas. Keberagaman yang saling melengkapi adalah motor organisasi. Sinode para Uskup 2021-2023, mengingatkan perlunya mengupayakan kemampuan “berjalan bersama” bahkan dengan “yang berbeda”. Gereja dan lembaga-lembaganya pun dituntut mampu “bergerak keluar” (Evangelii Gaudium). Yang sempit dan tertutup tidak produktif.

Kontrol/Evaluasi

Manusia tidak pernah sempurna, karena itu tidak ada organisasi yang tidak membutuhkan evaluasi/kontrol. Masalah selalu ada dalam dinamika organisasi. Evaluasi adalah daya pembaharuan atas dampak permasalahan. Kelemahan organisasi sosial keagamaan seringkali justru ada pada sisi ini. Jargon “ada yang mau menjabat saja sudah syukur”, membuat evaluasi tidak jalan. Ini membuat banyak organisasi “hidup segan, mati tak mau”. Ini kontra produktif dengan visi organisasi. Bahkan juga tidak sesuai dengan nilai-nilai agama katolik. Pekerja memang sedikit, tapi bukankan Tuhan selalu hadir? Lembaga yang lebih tinggi dan Gereja lokal, seringkali membiarkan saja situasi-situasi semacam ini. Cukup bicara yang baik dan indah, disetiap momen-momen pelantikan. Kemudian bungkam diantara momen-momen itu.

Pengambilan keputusan

Kalau evaluasi saja tidak dilakukan, darimana dapat mengambil keputusan yang penting?

Sekian, dan terimakasih.