Talenta yang Tidak Bertumbuh

Kisah tentang J. Robert Oppenheimer dan Christopher Langan menghadirkan sebuah refleksi yang menarik tentang hidup manusia. Dua orang sama-sama cerdas, sama-sama memiliki kemampuan intelektual luar biasa, tetapi berjalan menuju akhir yang sangat berbeda.

Oppenheimer dikenang dunia sebagai ilmuwan besar yang memimpin proyek bom atom. Ia lahir dalam lingkungan yang mendukung pendidikan, bertumbuh dengan akses terhadap buku, relasi, universitas, dan kesempatan. Talenta yang dimilikinya menemukan tanah yang subur untuk berkembang.

Sebaliknya, Christopher Langan justru menjadi kisah tentang kecerdasan yang berjalan sendirian. IQ yang sangat tinggi ternyata tidak otomatis membawa seseorang menuju keberhasilan. Kemiskinan, keluarga yang tidak stabil, minimnya dukungan sosial, dan ketidakmampuan memahami sistem membuat potensinya tidak pernah sungguh bertumbuh.

Di sinilah kita belajar bahwa manusia tidak hidup hanya dengan talenta.

Sebagai orang beriman, kita sering kali terlalu mudah mengagumi “kepintaran”, seolah-olah kecerdasan adalah ukuran utama keberhasilan hidup. Padahal dalam terang iman Kristiani, manusia dipanggil bukan hanya untuk menjadi pandai, tetapi juga matang sebagai pribadi. Talenta tanpa karakter dapat kehilangan arah. Kecerdasan tanpa relasi bisa berubah menjadi kesepian. Dan kemampuan besar tanpa pendampingan bisa berakhir menjadi potensi yang terkubur.

Yesus sendiri dalam perumpamaan talenta mengingatkan bahwa anugerah harus dikembangkan, bukan disimpan. Namun pengembangan talenta tidak pernah terjadi sendirian. Dibutuhkan keluarga, guru, sahabat, komunitas, dan lingkungan yang membantu seseorang bertumbuh. Karena itu, keberhasilan seseorang sering kali bukan hanya hasil kerja pribadinya, tetapi juga buah dari banyak tangan yang menopang hidupnya.

Kisah Christopher Langan juga menjadi cermin sosial bagi kita. Masih banyak anak-anak berbakat yang lahir di tempat-tempat sederhana, tetapi kehilangan kesempatan karena kemiskinan, kurangnya pendidikan, atau tidak adanya pendampingan. Gereja dan masyarakat dipanggil untuk hadir bagi mereka. Sebab talenta adalah karunia Allah yang seharusnya tidak mati karena keadaan.

Namun refleksi ini juga menjadi teguran bagi generasi muda. Tidak cukup hanya berkata, “Saya punya bakat.” Dunia membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademik. Kerendahan hati, kemampuan bekerja sama, keterampilan komunikasi, daya juang, kejujuran, dan ketekunan justru sering menjadi penentu keberhasilan seseorang dalam kehidupan nyata.

Banyak orang gagal bukan karena tidak pintar, tetapi karena berhenti belajar menghadapi hidup.

Pada akhirnya, talenta terbesar manusia mungkin bukan IQ yang tinggi, melainkan kesediaan untuk terus bertumbuh. Sebab Tuhan tidak hanya melihat seberapa besar kemampuan kita, tetapi juga bagaimana kita mengolah dan mempersembahkan kemampuan itu untuk kehidupan sesama.

Dan mungkin benar, kemiskinan bukanlah akhir dari segalanya. Yang paling berbahaya justru ketika seseorang kehilangan semangat untuk berkembang, kehilangan keberanian untuk berjuang, dan kehilangan kejujuran dalam hidupnya. *** (YH)

Menulis di Bayangan

Jack sedang berada di puncak kepercayaan dirinya. Semua pekerjaan terasa mudah. Email selesai dalam hitungan menit, presentasi tampak rapi dan meyakinkan, laporan bulanan beres tanpa perlu begadang. Rekannya, Rose, pun mengalami hal yang sama. Mereka seperti dua pegawai paling cemerlang di kantor cabang perusahaan itu.

Tak ada yang tahu bahwa sebagian besar pekerjaan mereka sebenarnya dikerjakan oleh sesuatu yang tak terlihat: kecerdasan buatan.

Dengan bantuan AI, semuanya menjadi cepat. Terlalu cepat. Bahkan mereka mulai merasa tidak lagi membutuhkan tim data analyst. “Semua bisa kami kerjakan sendiri,” begitu kira-kira keyakinan mereka. Maka satu per satu analis data diberhentikan. Kantor tampak lebih ringkas, lebih modern, lebih efisien.

Sampai akhirnya tiba hari evaluasi tahunan.

Di depan jajaran direksi, Jack berdiri penuh percaya diri membawakan presentasi. Grafik naik, tabel terlihat meyakinkan, angka-angka tampak sempurna. Namun petaka datang lewat pertanyaan sederhana.

“Data ini berasal dari mana?”
“Sudah diverifikasi?”
“Kenapa penjualan naik tetapi laba turun?”
“Mengapa stok gudang tidak sesuai dengan laporan gerai?”

Jack terdiam.

Presentasi yang tampak canggih itu mendadak kosong. Ia tidak benar-benar memahami data yang dipaparkannya. Semua sudah diringkas, diolah, bahkan dianalisis oleh mesin. Jack hanya menerima hasil jadi. Ia terlihat pintar, tetapi tidak sungguh memahami apa yang ia kerjakan.

Di situlah kisah ini terasa dekat dengan kehidupan kita hari ini.

Sedikit demi sedikit manusia mulai memindahkan ingatannya ke layar. Kita tak lagi menghafal, sebab mesin pencari selalu tersedia. Kita tak lagi berpikir panjang, sebab AI dapat menyusun jawaban dalam hitungan detik. Bahkan kadang kita lebih percaya hasil AI daripada pengetahuan, pengalaman, atau akal sehat kita sendiri.

Padahal teknologi seharusnya membantu manusia berpikir, bukan menggantikannya.

Ada ironi yang diam-diam tumbuh di zaman ini. Semakin mudah memperoleh jawaban, semakin malas manusia memeriksa kebenaran. Semakin cepat pekerjaan selesai, semakin dangkal pemahaman yang dimiliki. Kita mulai kehilangan kemampuan paling penting: berpikir kritis.

Kisah Jack sebenarnya bukan tentang kegagalan presentasi. Itu adalah cermin tentang manusia modern yang terlalu nyaman menyerahkan proses berpikir kepada mesin. Ketika semua bergantung pada AI, manusia bisa terlihat cerdas tanpa benar-benar bertumbuh menjadi cerdas.

Dan mungkin inilah makna paling dalam dari “menulis bayangan.” Kita mengetik begitu banyak hal, membagikan begitu banyak pendapat, menyusun begitu banyak kata, tetapi sesaat kemudian kita sendiri lupa makna dari apa yang kita tulis. Karena pikiran itu tidak pernah benar-benar lahir dari proses perenungan, melainkan hanya pantulan dari mesin.

Teknologi akan terus berkembang. AI akan semakin hebat. Namun manusia tetap membutuhkan hati yang jernih, nalar yang kritis, dan keberanian untuk memeriksa kembali setiap kebenaran.

Sebab pada akhirnya, masa depan tidak dimenangkan oleh mereka yang paling cepat menyalin jawaban, melainkan oleh mereka yang masih mau berpikir sebelum percaya. *** (YH)

Selamat Hari Ulang Tahun ke-68 Ikatan Sarjana Katolik Indonesia.

Selamat Hari Ulang Tahun ke-68 Ikatan Sarjana Katolik Indonesia.

ENAM puluh delapan tahun perjalanan bukan sekadar penanda usia, melainkan jejak panjang pengabdian, pemikiran, dan karya nyata bagi Gereja dan bangsa. Dalam setiap zaman, ISKA dipanggil bukan hanya untuk hadir, tetapi juga menjadi terang yang menyalakan harapan, menghadirkan gagasan, serta membangun peradaban yang lebih manusiawi dan berkeadaban.

Semoga momentum ulang tahun ini semakin memperbarui semangat seluruh anggota ISKA untuk terus bertumbuh dalam iman, unggul dalam intelektualitas, bijaksana dalam pelayanan, dan berani mengambil bagian dalam menjawab tantangan zaman. Kiranya ISKA tetap menjadi rumah karya bagi para sarjana Katolik untuk mengabdi dengan hati, berkarya dengan integritas, dan melayani dengan kasih demi kejayaan Indonesia serta kemuliaan Gereja.***

Menulis Sebagai Bagian Doa

Menulis Sebagai Bagian Doa

Kemarin siang, tiba-tiba saja sebuah chat dari saudaraku Ignas Waning masuk. Ia memintaku menulis artikel untuk sebuah web, tentang pengalamanku menulis. Chat itu sejenak membuatku terperangah. Ternyata aku selama ini tidak menyadari diri sebagai seorang penulis. Aku ternyata hanya menghayati identitasku sebagai: umat Allah, suami, ayah, opa, pengusaha, rotarian (anggota rotary club), atau pegiat gereja. Tidak terlintas bahwa aku adalah penulis. Kemudian aku mencoba menarik memori yang terkait. Enam buku memang sudah kutulis, semuanya diterbitkan oleh Kanisius. Tiga buku merupakan buku filsafat, dua buku tentang gerejawi (mendapat imprimatur dan nihil obstaat), dan satu buku tentang pendidikan. Enam jurnal penelitian ilmiah telah dipublish. Dan beberapa artikel telah dimuat di surat kabar, majalah cetak, dan media online. Chat saudara Ignas membuatku mulai menelusuri sejarah penulisanku. Padahal tidak pernah bercita-cita menjadi penulis.

Keinginan untuk menulis pertama kali muncul, ketika aku sedang menyelesaikan disertasi bidang filsafat yang membahas seputar “Hirarki Kebutuhan Abraham Maslow”. Penelitianku dalam disertasi itu menunjukkan bahwa selain dampak positif, ternyata ada dampak negatif serius pada konsep hirarki kebutuhan Maslow. Dampak negatif itu berupa kecenderungan untuk egois, dan menganggap pemenuhan kebutuhan yang lengkap sebagai satu-satunya jalan mencapai kebahagiaan. Kecenderungan-kecenderungan ini menyesatkan. Sejak itu aku merasa gelisah, banyak orang tidak sadar tentang dampak negatif konsep ini, termasuk aku sendiri sebelumnya. Kegelisahan itu terus muncul dan mengganggu pikiranku setiap saat. Itulah yang mendorongku menulis buku untuk memberi masukan pada masyarakat luas. Buku berjudul “Manusia Utuh” diterbitkan Kanisius tahun 2014, isinya membahas dampak-dampak konsep Maslow itu. Terbitnya buku itu, membuat kegelisahan tentang dampak negatif konsep hirarki kebutuhan lenyap. Walau aku sadar bahwa dampak buku itu terbatas, tetapi lega karena dalam keterbatasanku aku telah ambil bagian dalam mengantisipasi yang buruk.

Salah satu karya tulis (buku) yang terbaru dari Pak Hendro.

Pengalaman aktif dalam kegiatan menggereja, memunculkan kegelisahan yang lain tentang situasi awam Katolik yang membingungkan. Untuk mengatasi kegelisahan itu, aku melakukan penelitian kepustakaan. Hasilnya, Kanisius menerbitkan “Awam Mau Kemana?” tahun 2016 lengkap dengan imprimatur dan nihil obstaat. Keprihatinan yang menggelisahkan atas berkurangnya praktik keutamaan kerendahan hati ditengah kehidupan masa ini, memicu lahirnya buku “Mungkinkah Bumi Tanpa Humus” (Kanisius, 2017). Pengalaman hidup ternyata terus menerus menyuguhkan keprihatinan dan kegelisahan baru. Perjumpaanku dengan para lansia yang bingung dan seakan kehilangan makna hidupnya, membuatku kembali melakukan studi dan menulis “Bergulat Dengan Usia”. Buku ini diterbitkan Kanisius tahun 2021. Buku “Menata Nalar Memahami Kebenaran” yang diterbitkan Kanisius tahun 2022, muncul atas kegelisahan akibat banjir informasi dunia maya masa ini. Banjir informasi dunia maya berpotensi menyesatkan orang yang belum mampu memilahnya. Kegelisahan atas fenomena gerak awam Katolik yang cenderung terkonsentrasi di seputar altar dan kurang bergerak keluar untuk menjadi “garam” dan “terang” dunia, menginisiasi terbitnya “Pergilah, Kita Diutus” (Kanisius, 2022) dengan imprimatur dan nihil obstaat. Hal yang sama juga, dengan penulisan-penulisan berupa jurnal penelitian dan artikel, setelah kurenungkan, semuanya lahir dari kegelisahan yang ada di hati. Tidak ada motivasi lain yang dominan dan mendorongku untuk menulis, selain kegelisahan. Dan kegelisahan itu lenyap setelah aku berupaya mempersembahkan tulisan yang terbatas itu.

Chat saudara Ignas membantuku memaknai semua ini. Ternyata tulisan-tulisanku lahir semata untuk menjawab kegelisahan yang muncul di dalam hati. Kegelisahan itu selalu tentang fenomena yang tidak pada tempatnya, atau butuh dibaharui. Kemudian aku berupaya menjawab kegelisahan, dengan studi tentang penyebab dan cara mengantisipasinya. Tentunya semua ini berjalan dalam keterbatasanku. Apabila kegelisahan itu berasal dari seruan Allah, yang kuyakini selalu tinggal dalam hatiku. Dan menulis adalah caraku menjawab seruanNya. Maka menulis adalah bagian dari komunikasi batinku dengan Tuhan, bagian dari doa. Terimakasih untuk saudaraku Ignas Waning yang telah membantuku memaknai hidup lebih luas.** (Dr. Hendro Setiawan, pengusaha dan penulis serta penasihat DPC ISKA Palembang)

Obrolan dan Prestasi

Ngobrol santai di taman dalam halaman SMA Xaverius 1 Palembang (Sabtu, 12 Maret 2022), Pak Yoseph, Pak Herman dan Pak Ignas.

OBROLAN tidak harus mengangkat topik yang berat dan ilmiah. Obrolan santai sebaiknya tidak luput dari perhatian dan pertimbangkan kita. Obrolan santai sebaiknya terus dilanjutkan.

Obrolan santai, Sabtu (12 Maret 2022) mengetengahkan banyak topik yang terlintas di kepala. Obrolan santai di halaman dalam SMA Xaverius 1 Palembang mengutarakan banyak hal: profesionalitas, kinerja, kreativitas, inisiatif, transformasi, transparansi, dan sebagainya.

Dalam sharingnya salah satu topik yang disampaikan oleh Bpk Yoseph Handoko, berkaitan dengan tugas profesionalnya tentang penting dan perlunya prestasi. Tunjukan prestasi dalam tugas keseharian kita agar kita tetap eksis.

Agar prestasi tetap eksis dalam bidang usaha dan karya apapun, maka perlu usaha yang serius untuk terus menerus belajar. Media belajar berbasis internet sangat terbuka lebar: gratis atau berbayar.

Mari, kita semua tetap diundang dalam pertemuan atau rapat-rapat yang akan datang. Kondisi endemi ini memotivasi kembali kita dalam pertemuan tatap muka. ISKA DPC Palembang tetap eksis. ** (Ignas)  

Quo Vadis ISKA Palembang

Dr Hendro Setiawan (di podium), salah satu pembedah buku “Korupsi”, 3 tahun silam di Palembang

Oleh: Dr Hendro Setiawan

TULISAN ini semata dalam rangka menjawab permintaan sahabat terkasihku, Bpk. Ignas Waning. Peran, keberadaan, dan kontribusi lembaga intelektual Katolik ditengah situasi Gereja dan masyarakat dewasa ini, sudah menjadi kebutuhan yang mendesak. Rasanya tidak ada lagi pihak yang meragukan ini. Dunia intelektual adalah lahan yang perlu digarami, mengingat produk-produk intelektual kuat mempengaruhi cara hidup manusia. Nilai-nilai agama perlu dihadirkan dalam proses-proses intelektualitas. Ini tentu juga menjadi harapan atas kontribusi lembaga seperti ISKA Palembang.

Permasalahan klasik suatu organisasi, umumnya terletak pada manajemen dan kepemimpinannya. Masalah kebanyakan muncul dari dalam, bukan dari luar. Organisasi kebanyakan busuk dari dalam, bukan dari luar. Yang baik bahkan mampu bertumbuh ditengah badai tekanan luar. Karena itu perlu dibahas beberapa hal terkait:

Kepemimpinan

Kepemimpinan yang baik utamanya nampak dalam komitmen menegakkan visi dan nilai-nilai organisasi. Tanpa visi, organisasi seakan berjalan tanpa arah, sesuka pemimpin, atau arahnya hanya disesuaikan kesepakatan anggota-anggotanya belaka. Padahal setiap organisasi dibetuk dengan visi tertentu yang dituangkan dalam AD/ART/Statuta, dll. Nilai-nilai organisasi Katolik mengacu pada nilai-nilai katolisitas.

Perencanaan

Perencanaan adalah sarana untuk menjabarkan visi pada tindakan konkrit sesuai dengan waktu, situasi, dll.

Organisasi

Organisasi diperlukan untuk “menggerakkan”, “memotivasi”, “mengarahkan”, dll, semua anggota dan stake holder dalam rangka mencapai apa yang direncanakannya. Ini adalah tantangan utama setiap lembaga sosial, yang tidak punya ikatan yang untuk memaksa gerak yang lain. Semua yang terlibat adalah relawan yang tidak dapat diperintah begitu saja. Dengan demikian kemampuan kepemimpinan dan organisasi untuk “merangkul”, “memotivasi”, dll, banyak anggota dan stake holder yang beragam menjadi tuntutan utama. Tujuan hanya dapat dicapai dengan talenta yang beragam. Kegagalan dari hal ini membuat organisasi hanya berjalan dengan type anggota yang “seragam” (punya pekerjaan sama, hobi sama, dll). Keseragaman membuat sulit bergerak. Padahal kekuatan organisasi sosial terletak pada keberagamannya. Efektifitas kepemimpinan terletak pada kemampuan merangkul yang lebih luas. Keberagaman yang saling melengkapi adalah motor organisasi. Sinode para Uskup 2021-2023, mengingatkan perlunya mengupayakan kemampuan “berjalan bersama” bahkan dengan “yang berbeda”. Gereja dan lembaga-lembaganya pun dituntut mampu “bergerak keluar” (Evangelii Gaudium). Yang sempit dan tertutup tidak produktif.

Kontrol/Evaluasi

Manusia tidak pernah sempurna, karena itu tidak ada organisasi yang tidak membutuhkan evaluasi/kontrol. Masalah selalu ada dalam dinamika organisasi. Evaluasi adalah daya pembaharuan atas dampak permasalahan. Kelemahan organisasi sosial keagamaan seringkali justru ada pada sisi ini. Jargon “ada yang mau menjabat saja sudah syukur”, membuat evaluasi tidak jalan. Ini membuat banyak organisasi “hidup segan, mati tak mau”. Ini kontra produktif dengan visi organisasi. Bahkan juga tidak sesuai dengan nilai-nilai agama katolik. Pekerja memang sedikit, tapi bukankan Tuhan selalu hadir? Lembaga yang lebih tinggi dan Gereja lokal, seringkali membiarkan saja situasi-situasi semacam ini. Cukup bicara yang baik dan indah, disetiap momen-momen pelantikan. Kemudian bungkam diantara momen-momen itu.

Pengambilan keputusan

Kalau evaluasi saja tidak dilakukan, darimana dapat mengambil keputusan yang penting?

Sekian, dan terimakasih.

ISKA Kota Jambi: Bangun Sinergisitas

ISKA Kota Jambi: Bangun Sinergisitas

Pelantikan DPC ISKA Kota Jambi disaksikan-turut hadir ormas Katolik: PMKRI, WKRI dan Pemuda Katolik Kota Jambi (Minggu, 6 Maret 2022)

KEPENGURUSAN DPC ISKA (Ikatan Sarjana Katolik) Kota Jambi telah dibentuk. Pelantikan secara online (Minggu, 6 Maret 2022).

Ketua dan Sekjen ISKA Pusat, Bapak Hargo dan Bapak Joko melantik para pengurus ISKA Kota Jambi via zoom.

Kegiatan rekoleksi dan pelantikan pengurus DPC ISKA Kota Jambi yang dikemas dalam tema, “Panggilan dan Perutusan Ormas Katolik Jambi yang Holistik”.

Pantas diapresiasi dengan terbentuknya kepengurusan DPC ISKA Kota Jambi. Pengembangan ormas ISKA di Kota Jambi sangat membantu dan saling bekerja sama dengan DPC ISKA Kota Palembang yang telah dibentuk sedikit lebih awal.

Terus bersinergi

DPC Kota Jambi dan DPC Kota Palembang (serta tetap menanti terbentuknya DPC Kota Bengkulu) sangat membantu untuk membangun kerja sama dan terus bersinergi di wilayah teritorial Keuskupan Agung Palembang (KAPal).

Ketua DPC ISKA Kota Palembang, Dr Heri Setiawan menginfokan bahwa DPC Kota Jambi menjadi peserta munas (Musyawarah Nasional) yang akan di selenggarakan di Nusa Tenggara Timur pada 27-29 Mei 2022.

Dengan apa yang kita miliki, “apa yang bisa kita sinergikan untuk bangsa dan negara serta gereja dengan kearifan lokal”, tanya Bapak Heri bagi pengurus dan anggota DPC ISKA Kota Palembang. *** (Ignas)